Mediapribumi.id, Sumenep — Belakangan ini, suhu udara di Kabupaten Sumenep terasa lebih dingin dari biasanya, terutama saat malam hingga dini hari. Kondisi tersebut merupakan fenomena yang dikenal sebagai bediding.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Trunojoyo, Ari Widjajanto, menjelaskan bahwa wilayah Madura secara umum telah memasuki musim kemarau sejak Mei 2026.
Menurutnya, pada musim kemarau posisi semu Matahari berada lebih jauh dari wilayah Indonesia sehingga intensitas pemanasan permukaan bumi berkurang.
“Saat ini sudah memasuki musim kemarau. Posisi Matahari terjauh terjadi pada Juni, sedangkan puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada September nanti,” ujarnya, Minggu (05/07/2026).
Meski demikian, hujan masih beberapa kali terjadi di sejumlah wilayah. Ari menjelaskan, hujan tersebut merupakan fenomena lokal yang dipengaruhi adanya perbedaan tekanan udara yang menyebabkan pergerakan angin melambat.
Kondisi itu memungkinkan uap air berkumpul dan memicu pertumbuhan awan konvektif yang kemudian menimbulkan hujan dengan cakupan wilayah terbatas.
Lebih lanjut, ia mengatakan fenomena ini merupakan kondisi yang lazim terjadi saat musim angin monsun timur. Angin bertiup dari belahan Bumi selatan, tepatnya Australia, yang saat ini sedang mengalami musim dingin.
“Karena Australia sedang musim dingin, angin yang bertiup menuju Asia membawa massa udara yang kering sehingga suhu udara di wilayah kita terasa lebih dingin,” tuturnya.
Kendati demikian, Ari menegaskan bahwa tidak ada perubahan cuaca yang signifikan di wilayah Sumenep. Hujan yang sesekali turun hanya bersifat lokal dan tidak menandakan berakhirnya musim kemarau.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak khawatir terhadap fenomena tersebut karena merupakan kondisi yang normal terjadi setiap musim kemarau.













