BeritaPendidikan

Dari Sekolah ke Rumah, Begini Siswa SMAN 3 Sumenep Kembangkan Ketahanan Pangan Mandiri

Avatar
×

Dari Sekolah ke Rumah, Begini Siswa SMAN 3 Sumenep Kembangkan Ketahanan Pangan Mandiri

Sebarkan artikel ini
Dari Sekolah ke Rumah, Begini Siswa SMAN 3 Sumenep Kembangkan Ketahanan Pangan Mandiri
Aflah Athaillah Akmal, Siswa kelas XII yang dinobatkan sebagai Duta Siswa Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) Jawa Timur.

Mediapribumi.id, Sumenep — Ilmu ketahanan pangan yang didapat Aflah Athaillah Akmal di bangku sekolah tak berhenti di lingkungan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Sumenep saja. Siswa kelas XII yang dinobatkan sebagai Duta Siswa Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) Jawa Timur itu justru menerapkannya secara mandiri di rumahnya, di kawasan Pamolokan, hingga tumbuh menjadi apa yang disebutnya Rumah Inovatif Ketahanan Pangan (RIKAP).

Berawal dari Lele

Akmal mengaku ketertarikannya bermula dari program SIKAP di sekolah, yang kemudian ia coba terapkan sendiri di rumah. Uji coba pertamanya adalah budi daya ikan lele.

“Awal mula saya mencoba lele, sekitar dua bulan sudah menguntungkan,” kata Akmal, Selasa (01/09/2026).

Setelah lele menunjukkan hasil, ia melebarkan usaha ke peternakan ayam, lalu hidroponik. Menurutnya, program ini ia ikuti bukan semata soal keuntungan, tetapi juga untuk meringankan beban orang tua.

Modal dari Uang Saku, Berbagi dengan Teman

Untuk modal awal, Akmal mengelola sebagian bidang secara mandiri dan sebagian lagi berkolaborasi. Untuk hidroponik, ia berkolaborasi dengan teman, sementara ayam dan lele ia kelola sendiri.

“Modal hidroponik saya kolaborasi dengan teman, kalau ayam dan lele saya kelola sendiri. Saya sisihkan dari uang jajan,” ujarnya.

Ia mengaku awalnya kurang memahami teknik budi daya lele yang benar. Pemahamannya kian bertambah setelah pihak sekolah mendatangkan narasumber dari dinas perikanan untuk mengajarkan pengelolaan lele secara langsung.

“Awalnya kurang paham, tapi sekolah mendatangkan orang dari dinas perikanan untuk mengajarkan pengelolaan lele. Akhirnya saya semakin mengerti dan keuntungannya semakin membaik,” katanya.

Keluarga Ikut Menyokong

Menurut Akmal, keluarganya memberikan dukungan penuh terhadap usaha yang ia rintis, bahkan sesekali meminjamkan tambahan modal saat dibutuhkan.

Dukungan itu juga terlihat dari sisi pemasaran. Orang tuanya turut membantu memasarkan hasil panen, mulai dari menitipkannya ke kegiatan PKK desa, Akmal juga menjualnya di TB setiap akhir pekan, hingga memasarkannya lewat media sosial. Ikan lele hasil budi dayanya pun turut dipasarkan melalui PKK.

Tantangan yang Dihadapi

Perjalanan Akmal membangun RIKAP bukan tanpa kendala. Ia mengaku sempat menghadapi serangan penyakit pada tanaman hidroponiknya, serta rasa lelah karena pertumbuhan tanaman yang berjalan lambat. Ayam ternaknya pun kerap tidak bertelur.

“Tantangannya, dari semua yang saya kelola seperti hidroponik ada penyakitnya. Kadang saya merasa capek karena pertumbuhannya lamban, tapi saya meyakini itu wajar di tahap awal. Ayam juga kadang tidak bertelur,” ujarnya.

Ia mengaku menyelesaikan setiap kendala itu satu per satu, sembari terus belajar. Selain mengikuti workshop green house, Akmal juga memperdalam ilmunya secara mandiri melalui internet.

“Kemarin saya ikut workshop eco green, akhirnya saya bisa menerapkan dan hasilnya lebih baik. Saya juga belajar lewat internet,” katanya.

Untuk hasil telur ayam, sebagian dijual ke penjual es degan (es kelapa muda) di sekitar rumahnya, dan sebagian lagi langsung dibeli warga.

Perkembangan Usaha

Usaha yang dirintis Akmal menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Berikut rincian perkembangannya:

Hidroponik: kini mencapai 500 lubang tanam, naik dari sebelumnya hanya 100 lubang.

Ayam kampung: 15 ekor, ditambah ayam petelur sebanyak 20 ekor.

Lele: sekitar 500 ekor, dengan target mencapai 1.000 ekor pada bulan depan.

Khusus untuk lele, Akmal menceritakan bahwa kolam yang ia gunakan sebenarnya awalnya milik orang tuanya yang sempat tidak dilanjutkan pengelolaannya. Akmal kemudian mengambil alih dan mengembangkannya kembali.

Cita-Cita Jadi Abdi Negara, RIKAP Tetap Jalan Terus

Meski usaha ketahanan pangannya terus berkembang, Akmal punya rencana besar lain untuk masa depannya, yakni menjadi abdi negara. Ia berencana melanjutkan pendidikan ke Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Kendati begitu, ia menegaskan RIKAP tidak akan ditinggalkan. Usaha ini rencananya akan tetap ia jalankan sebagai kegiatan sampingan.

“Cita-cita saya menjadi abdi negara, rencananya masuk IPDN. Nanti ini akan saya jadikan sampingan, ke depannya akan terus saya lakukan karena tidak mengganggu pelajaran,” ujarnya.

Akmal berpesan kepada teman-teman sebayanya agar tidak ragu menerapkan ilmu yang didapat di sekolah ke lingkungan rumah masing-masing.

“Kami selalu mengajak, apa yang ada di sekolah dibawa ke rumah. Kurangi gengsi, perbanyak aksi,” pungkasnya.

Dari Sekolah ke Rumah, Begini Siswa SMAN 3 Sumenep Kembangkan Ketahanan Pangan Mandiri
SMAN 3 Sumenep.

Keterampilan Dari Sekolah

Kepala SMAN 3 Sumenep, Hari Utami Dewi menjelaskan, pelaksanaan SIKAP di sekolah yang dia pimpin ini memang sudah dimasukkan dalam program Kokurikuler. Sejak diluncurkan pada awal tahun 2026 bidang ketahanan pangan yang dilaksanakan langsung empat bidang yakni pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan.

“Keempat bidang itu kini berjalan semua dan semakin terlihat hasilnya,” imbuh Dewi.

untuk meningkatkan keterampilan itu, pihaknya mengundang orang ahli untuk memberikan edukasi baik kepada guru yang menjadi Tim SIKAP maupun kepada siswa secara langsung sesuai dengan bidang yang dikelola seperti dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DKPP), Dinas Perikanan, dan sebagainya.

Selain keterampilan untuk pengelolaan, pihak sekolah juga mendatangkan ahli bidang pemasaran serta kewirausahaan untuk meningkatkan hasil penjualan pasca panen.

“Agar siswa memiliki bekal pengetahuan untuk bidang itu serta kewirausahaan yang bisa dimanfaatkan setelah pulang nanti ke masyarakat,” katanya.

Dampaknya cukup signifikan, para guru yang awalnya kurang mengerti pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan itu akhirnya mengerti bahkan juga mengembangkan di rumahnya masing-masing.

Tak hanya bagi guru, para siswa juga demikian. Salah satu siswa yang menjadi Duta SIKAP, Aflah Athaillah Akmal bermodal pengetahuan yang diberikan di sekolah itu kini sudah mengembangkan berbagai bidang di rumahnya.

“Dia berhasil mempraktikkan langsung di rumahnya menjadi Rumah Inovasi Ketahanan Pangan (RIKAP),” terangnya.

Ekonomi Pekarangan

Langkah ini, sebagaimana Moh. Lutfi menyebut sebagai Ekonomi Pekarangan dalam buku yang dia tulis berjudul Ekonomi Pekarangan Sebuah Gagasan untuk Rekonfigurasi Kemandirian. Konsep ekonomi pekarangan tidak hanya terbatas pada kegiatan bercocok tanam maupun beternak dalam skala rumah tangga. Lebih dari itu, konsep ini merupakan bentuk nyata kearifan lokal yang sejak lama berperan dalam menopang ketahanan masyarakat di Indonesia. Pengetahuan tersebut diwariskan antargenerasi, mulai dari cara mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang terbatas, mengolah limbah organik, hingga membudidayakan dan memanfaatkan tanaman herbal.

Penerapan sistem pangan dan pemenuhan nutrisi secara langsung di lingkungan rumah menjadikan ekonomi pekarangan sebagai perpaduan antara pengetahuan lokal dan prinsip keberlanjutan. Praktik ini tidak hanya dapat membantu memperkuat ketahanan pangan keluarga, tetapi juga mendukung peningkatan kesehatan serta membuka peluang bagi kemandirian ekonomi rumah tangga. Dengan demikian, ekonomi pekarangan menjadi pendekatan yang relatif sederhana, tetapi memiliki daya tahan dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang terus berkembang.

Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!

Jadikan Sumber Pilihan
Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

;