Berita

BMKG Sumenep Imbau Warga Tunda Perjalanan Laut, Cuaca Ekstrem Akibat Bibit Siklon

Avatar
144
×

BMKG Sumenep Imbau Warga Tunda Perjalanan Laut, Cuaca Ekstrem Akibat Bibit Siklon

Sebarkan artikel ini
BMKG Sumenep Imbau Warga Tunda Perjalanan Laut, Cuaca Ekstrem Akibat Bibit Siklon
Kepala BMKG Trunojoyo Sumenep, Ari Widjajanto.

Mediapribumi.id, Sumenep — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Trunojoyo Sumenep terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan cuaca dalam beberapa hari terakhir. Hasil pemantauan menunjukkan adanya dinamika atmosfer yang cukup signifikan, terutama kemunculan bibit siklon di wilayah selatan Indonesia, Kamis (22/1/2026).

Kepala BMKG Trunojoyo Sumenep, Ari Widjajanto, menjelaskan bahwa sebelumnya sempat terdeteksi bibit siklon di wilayah Papua yang memengaruhi pola angin di Indonesia. Namun, fenomena tersebut berlangsung singkat dan kini angin baratan kembali aktif.

“Angin baratan yang kembali aktif ini berdampak pada wilayah Madura dan sekitarnya. Saat ini juga terpantau potensi berkembangnya siklon tropis di bawah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya bagian barat, yang dapat memicu cuaca ekstrem,” kata Ari.

Ia menegaskan, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan gelombang tinggi, angin kencang, serta hujan lebat yang berisiko terhadap keselamatan pelayaran. Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan pengguna jasa transportasi laut, untuk menunda perjalanan laut hingga kondisi cuaca kembali normal.

“Dalam beberapa hari ke depan, kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan perjalanan laut demi keselamatan bersama,” tegasnya.

Sementara itu, Manager Cabang PT Dharma Dwipa Utama, Maman Surachman, menyampaikan bahwa pihaknya telah mengambil langkah antisipatif dengan menghentikan sementara aktivitas pelayaran. Kebijakan tersebut dilakukan berdasarkan surat edaran BMKG terkait peringatan cuaca ekstrem.

“Rute pelayaran menuju Kepulauan Sapudi, Raas, dan Jangkar dihentikan sementara waktu hingga kondisi cuaca dinyatakan aman dan normal kembali,” ujarnya.

Maman menambahkan, fenomena cuaca ekstrem seperti ini merupakan siklus alam yang kerap terjadi secara periodik. Menurutnya, kondisi serupa biasanya muncul setiap empat tahun sekali.

“Sejak 9 Januari lalu, aktivitas pelayaran sudah kami hentikan. Keselamatan awak kapal dan penumpang menjadi prioritas utama kami,” pungkasnya.

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep