Berita

Pemkab, Pertamina, dan DPRD Beda Pandangan Soal Antrean Biosolar di Sumenep

Avatar
×

Pemkab, Pertamina, dan DPRD Beda Pandangan Soal Antrean Biosolar di Sumenep

Sebarkan artikel ini
Pemkab, Pertamina, dan DPRD Beda Pandangan Soal Antrean Biosolar di Sumenep
Tampak Antrean Kendaraan di SPBU Kecamatan Manding. (Foto: Adit)

Mediapribumi.id, Sumenep — Antrean kendaraan yang hendak membeli BBM bersubsidi jeni Biosolar bersubsidi terlihat memanjang di sejumlah SPBU di Kabupaten Sumenep dalam sepekan terakhir. Pemerintah daerah memastikan kuota dari Pertamina tidak dikurangi, sedangkan para sopir mengaku pekerjaan mereka terganggu.

Antrean dilaporkan terjadi di SPBU yang tersebar di Kecamatan Manding, Ganding, Kota, dan Batuan. Seorang sopir truk boks, Ahmad Turmidi, mengaku tiba di SPBU Batuan sekitar pukul 07.15 WIB pada Rabu (28/10/2026). Melihat barisan kendaraan yang panjang, ia memilih tidak mengantre dan langsung mengantar pesanan ke Kalianget.

“Kalau ikut mengantre, saya bisa kena dimarahi pelanggan karena terlambat,” katanya.

Ia menilai antrean ini memukul para pekerja berkendaraan roda empat dan meminta pemerintah segera turun tangan supaya aktivitas ekonomi tidak tersendat.

Kepala Bagian Perekonomian dan SDA Setdakab Sumenep, Salamet Supriyadi, menegaskan pasokan dari Pertamina tidak berkurang. Kuota tiap SPBU sudah ditetapkan sejak awal tahun. Ia menduga lonjakan kebutuhan terjadi karena bulan ini bertepatan dengan musim proyek dan panen, sehingga kendaraan yang sebelumnya jarang beroperasi kembali bergerak.

Dari hasil koordinasi dengan Pertamina, lanjut Supriyadi, kiriman BBM ke SPBU belakangan datang terlambat, dari pagi menjadi siang atau sore.

“Pergeseran jadwal itu membuat pengisian kendaraan menumpuk di waktu yang sama. Ia juga menyebut sebagian warga panik membeli solar karena mengira stok menipis,” katanya, Rabu (29/10/2026).

Untuk meredam keadaan, Pemkab Sumenep berencana mengirim surat edaran kepada SPBU. Isinya membatasi pembelian solar satu kali per kendaraan dalam sehari, guna mencegah pengecer dan penimbunan. Pengisian dengan jeriken juga akan dibatasi hanya untuk petani dan nelayan pemegang barcode khusus.

“Hingga kini belum ada penimbunan yang ditemukan,” tegasnya.

Kasi Humas Polresta Sumenep, Ach Putra Wardana, menyebut kepolisian mengecek SPBU setiap hari. Kapolresta, menurutnya, meninjau salah satu SPBU pada Selasa (27/10/2026) dan menemukan stok mencukupi.

Pembelian hanya diatur agar persediaan cukup sampai akhir bulan. Ia menambahkan, antrean muncul karena warga menyesuaikan diri dengan jadwal pasokan dari Pertamina, serta belum ada penimbunan atau modifikasi tangki.

“Bila ditemukan penyalahgunaan, akan ada tindakan tegas,” ujarnya.

Ketua DPRD Sumenep, H Zainal Arifin, menyayangkan kondisi ini. Ia mendorong SPBU mengutamakan kendaraan umum dan tidak melayani jeriken secara berlebihan.

Politisi PDI Perjuangan itu juga meminta Pertamina mengkaji ulang kuota solar bersubsidi ke Sumenep dan menjaga konsistensi pengiriman.

Menurutnya, antrean sudah berlangsung berbulan-bulan, sehingga ia khawatir ada pengurangan kuota, bukan hanya keterlambatan pasokan.

“Kami akan melakukan inspeksi mendadak ke SPBU di Ambunten dan meminta aparat bertindak tegas tanpa pandang bulu bila ada pelanggaran,” tandasnya.

Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi, juga membantah adanya pengurangan kuota. Ia menyebut konsumsi meningkat saat musim kemarau di Sumenep.

Menurutnya, penyaluran yang tidak tepat sasaran, termasuk solar yang dijual kembali, ikut memperpanjang antrean karena pembeli yang bukan pengguna langsung turut mengantre. Pertamina, kata Ahad, sudah mempercepat pengiriman dan menambah pasokan solar bersubsidi ke Sumenep hingga 50 persen.

“Semakin cepat kebutuhan terserap, antrean akan lebih cepat terurai,” ucapnya.

Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!

Jadikan Sumber Pilihan
Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *