ArtikelOpini

Antara By Problem Dengan By Design System: Potret Pola Pengasuhan Santri di Lingkuang Pondok Pesantren

Avatar
×

Antara By Problem Dengan By Design System: Potret Pola Pengasuhan Santri di Lingkuang Pondok Pesantren

Sebarkan artikel ini
Antara By Problem Dengan By Design System: Potret Pola Pengasuhan Santri di Lingkuang Pondok Pesantren
Ilustrasi: Proses Belajar-Mengajar.

Mediapribumi.id“Pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang sibuk memadamkan api, melainkan pendidikan yang sejak awal mampu mendesain lingkungan agar api tidak mudah muncul.”

Dalam membersamai santri, kita masih sering melihat pola pendampingan yang berjalan secara by problem: tindakan, perhatian, dan perlakuan baru diberikan ketika masalah muncul. Ada pelanggaran, baru ditangani. Ada konflik, baru dicari solusi. Ada penurunan kedisiplinan, baru dilakukan pembinaan.

Pola seperti ini cenderung reaktif. Energi pengasuhan akhirnya lebih banyak terserap untuk menyelesaikan persoalan daripada membangun sistem yang mampu mencegah persoalan itu muncul.

Padahal, pendidikan dan pembinaan santri semestinya tidak hanya bergerak berdasarkan masalah, tetapi dibangun secara by design system, sebuah pola pendidikan yang dirancang sejak awal melalui program-program yang sistematis, terencana, terukur, dan berkelanjutan.

By design system berarti kita tidak menunggu masalah untuk bergerak. Kita merancang lingkungan, kebiasaan, program, aturan, pendampingan, evaluasi, dan berbagai aktivitas yang secara sadar diarahkan untuk membentuk karakter dan budaya santri.

Perencanaan tersebut idealnya tidak lahir dari pikiran satu atau dua orang saja, tetapi berangkat dari ide bersama, dikaji bersama, diuji bersama, kemudian dijalankan dan dievaluasi bersama. Dengan demikian, sistem yang dibangun bukan sekadar respons sesaat terhadap persoalan, tetapi menjadi desain pendidikan yang memiliki arah dan tujuan yang jelas.

Ketika sistem berjalan dengan baik, pembinaan akan menjadi jauh lebih stabil dan efektif. Berbagai potensi masalah dapat diminimalisir sejak awal. Angka pelanggaran dapat ditekan, bukan semata-mata karena sanksi diperbanyak, tetapi karena lingkungan pendidikan telah dirancang untuk mendorong santri berperilaku sesuai dengan nilai dan budaya yang ingin dibangun.

Di sinilah pentingnya melihat santri bukan hanya sebagai objek yang harus dikoreksi ketika melakukan kesalahan, tetapi sebagai pribadi yang harus terus ditumbuhkan dan dikembangkan melalui sebuah sistem pendidikan yang hidup.

Santri perlu berada dalam sebuah ekosistem pembinaan: ada program, ada rutinitas, ada keteladanan, ada kontrol, ada ruang kreativitas, ada evaluasi, dan ada pendampingan. Semua itu harus saling terhubung dalam satu desain besar pendidikan.

Program-program tersebut dapat hadir dalam bentuk yang pragmatis maupun idealis. Yang pragmatis menjawab kebutuhan dan persoalan keseharian santri; sementara yang idealis mengarahkan mereka kepada visi besar pendidikan yang ingin dicapai.

Dengan pola seperti ini, kontrol terhadap santri tidak selalu harus hadir dalam bentuk pengawasan langsung, tetapi dapat diwujudkan melalui sistem yang membuat santri terbiasa hidup dalam keteraturan, tanggung jawab, disiplin, dan nilai-nilai yang telah ditanamkan.

Karena itu, tantangan kita dalam membersamai santri bukan sekadar bagaimana menyelesaikan lebih banyak masalah, tetapi bagaimana mendesain sistem pendidikan yang mampu melahirkan lebih sedikit masalah dan lebih banyak pertumbuhan.

Sebab pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang sibuk memadamkan api, melainkan pendidikan yang sejak awal mampu mendesain lingkungan agar api tidak mudah muncul.

Dari pola tindakan by problem menuju by design system, dari budaya reaktif menuju budaya preventif, dari penanganan pelanggaran menuju pembangunan karakter, dan dari sekadar mengontrol santri menuju menciptakan sistem yang membuat santri mampu mengontrol dirinya sendiri.

Oleh: Usman Adhim, S.H.I (Pemerhati & Penggiat Pendidikan).

Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!

Jadikan Sumber Pilihan
Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *