BeritaPerspektif

Guru Besar UIN Madura: Kritik Tanpa Data dan Kepedulian pada Daerah Sendiri Berisiko Jadi Kegaduhan Digital

Avatar
×

Guru Besar UIN Madura: Kritik Tanpa Data dan Kepedulian pada Daerah Sendiri Berisiko Jadi Kegaduhan Digital

Sebarkan artikel ini
Guru Besar UIN Madura: Kritik Tanpa Data dan Kepedulian pada Daerah Sendiri Berisiko Jadi Kegaduhan Digital
Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri (UIN) MAdura, Prof. Dr. Achmad Muhlis. (Foto; Dokumen Pribadi).

Mediapribumi.id, Pamekasan — Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri (UIN) MAdura, Prof. Dr. Achmad Muhlis, menegaskan bahwa kritik terhadap kebijakan pemerintahan harus dilandasi kedalaman data, ketepatan konteks, serta kepedulian terhadap persoalan di daerah sendiri. Tanpa itu, kritik berpotensi bergeser menjadi kegaduhan sosial dan populisme digital semata.

“Kritik yang sehat tidak hanya diukur dari keberanian menyampaikan pendapat, tetapi juga dari kedalaman pengetahuan dan tanggung jawab moral. Kehormatan seseorang tidak diukur dari seberapa sering ia mengomentari orang lain, melainkan dari seberapa baik ia menjaga amanah di lingkungannya sendiri,” kata Prof. Achmad Muhlis, Selasa (21/07/2026).

Direktur Utama IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan itu mengaitkan fenomena kritik terhadap daerah lain dengan kearifan lokal masyarakat Madura, yakni ungkapan jegeh daporrah dibi’ je’ ajege’en deporrah oreng (jagalah dapurmu sendiri, jangan sibuk mengurusi dapur orang lain).

Menurutnya, falsafah tersebut bukan ajaran individualisme, melainkan etika prioritas. Pihak yang gencar mengkritik daerah lain sementara membiarkan persoalan di daerahnya sendiri terbengkalai dinilai akan kehilangan legitimasi dan otoritas moral di mata publik.

“Setiap daerah memiliki karakter, sejarah, kultur birokrasi, dan kapasitas fiskal yang berbeda. Mengukur keberhasilan suatu kebijakan tidak bisa hanya bermodalkan persepsi terbatas dari potongan informasi di media sosial,” tambahnya.

Dalam konteks hukum Islam, Ketua Senat UIN Madura itu mengingatkan agar kontrol sosial tidak berubah menjadi budaya mencari-cari kesalahan (tajassus) yang dilandasi prasangka, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurāt ayat 12.

Ia menjelaskan, kritik dalam Islam merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar yang wajib dilandasi ilmu, kejujuran, dan niat memperbaiki (bonum commune), bukan untuk mempermalukan pihak lain atau membangun popularitas semata.

“Masyarakat yang beradab bukanlah masyarakat yang paling keras mengkritik orang lain, melainkan masyarakat yang paling jujur memperbaiki dirinya sendiri. Introspeksi harus selalu mendahului intervensi,” pungkasnya.

Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!

Jadikan Sumber Pilihan
Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *