BeritaMigas

Ketahanan Energi Indonesia Melesat, Pemerintah Genjot Produksi dan Kurangi Impor

Avatar
20
×

Ketahanan Energi Indonesia Melesat, Pemerintah Genjot Produksi dan Kurangi Impor

Sebarkan artikel ini
Ketahanan Energi Indonesia Melesat, Pemerintah Genjot Produksi dan Kurangi Impor

Mediapribumi.id, JAKARTA — Indonesia mencatat capaian penting di sektor energi dengan menempati posisi kedua sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik dari 52 negara versi . Pengakuan ini menjadi indikator bahwa kebijakan dan tata kelola energi nasional mulai menunjukkan hasil di tengah dinamika geopolitik global.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyebut capaian tersebut tidak lepas dari berbagai langkah strategis yang ditempuh pemerintah dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi energi nasional saat ini masih menghadapi tantangan besar.

“Dalam kondisi ini kita harus putar otak bagaimana caranya harus mencapai kemandirian energi,” ujar Bahlil saat menghadiri forum bisnis di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).

Saat ini, Indonesia yang pernah menjadi eksportir minyak dan anggota telah beralih menjadi negara importir. Produksi minyak nasional tercatat sekitar 605 ribu barel per hari, sementara kebutuhan konsumsi mencapai 1,6 juta barel per hari.

Namun demikian, pada 2025 pemerintah mencatat capaian positif. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, produksi minyak nasional berhasil melampaui target APBN. Pemerintah juga mulai mengoptimalkan sumur-sumur minyak tua yang sebelumnya tidak produktif dengan penerapan teknologi baru serta melibatkan masyarakat setempat dalam pengelolaan secara legal.

Selain itu, percepatan pengembangan blok migas menjadi fokus utama. Proyek strategis seperti Blok Masela yang sempat tertunda selama puluhan tahun kini mulai bergerak setelah pemerintah mengambil langkah tegas terhadap operator. Proyek tersebut kini telah memasuki tahap lelang konstruksi dengan nilai investasi mencapai USD21 miliar.

Di sektor hilir, pemerintah mencatat tonggak penting dengan penghentian impor solar pada 2026. Keberhasilan ini ditopang oleh kebijakan mandatori biodiesel yang telah berjalan hampir satu dekade, dengan tingkat pencampuran mencapai 40 persen dan direncanakan meningkat menjadi 50 persen.

Pemerintah juga tengah menyiapkan kebijakan serupa untuk bensin melalui pencampuran bioetanol. Belajar dari , Indonesia menargetkan implementasi campuran etanol sebesar 20 persen pada 2028 guna menekan impor bensin hingga 8 juta kiloliter.

Sementara itu, di sektor gas rumah tangga, tantangan masih cukup besar. Indonesia masih mengimpor sekitar 7,47 juta metrik ton LPG per tahun, sementara produksi domestik hanya mampu memenuhi sebagian kecil kebutuhan. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mulai mengembangkan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif yang lebih murah.

Upaya lain yang dilakukan adalah diversifikasi sumber impor minyak mentah. Jika sebelumnya bergantung pada kawasan Timur Tengah melalui jalur strategis , kini Indonesia memperluas sumber pasokan dari berbagai wilayah seperti Afrika, Amerika, dan Rusia guna mengurangi risiko gangguan pasokan. Di sisi lain, pemerintah juga memastikan stabilitas harga energi bagi masyarakat.

“Sampai 31 Desember, sekalipun harga ICP 100 dolar AS, insyaallah harga BBM dan LPG subsidi tidak akan naik,” tegas Bahlil.

Menurutnya, ketahanan energi tidak dibangun melalui satu kebijakan besar, melainkan melalui langkah-langkah bertahap yang konsisten. Mulai dari optimalisasi produksi dalam negeri, percepatan proyek migas, hingga pengelolaan impor yang lebih terarah menjadi bagian dari strategi memperkuat fondasi energi nasional.

Sumber: Siaran Pers Kementerian ESDM Nomor 026.Pers/04/SJI/2026, 3 Mei 2026.

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep