BeritaEkonomiPemerintahan

Wabup Sumenep Dorong Program HDDAP untuk Transformasi Pertanian Lahan Kering

Avatar
27
×

Wabup Sumenep Dorong Program HDDAP untuk Transformasi Pertanian Lahan Kering

Sebarkan artikel ini
Wabup Sumenep Dorong Program HDDAP untuk Transformasi Pertanian Lahan Kering
Wabup Sumenep, KH. Imam Hasyim Saat Menyampaikan Sambutan

Mediapribumi.id, Sumenep — Pemerintah Kabupaten Sumenep mendorong pelaksanaan Program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP) sebagai motor penggerak transformasi sektor pertanian berkelanjutan, khususnya di wilayah lahan kering.

Hal itu disampaikan Wakil Bupati Sumenep KH. Imam Hasyim saat Rapat Koordinasi HDDAP di Kantor Bupati, Kamis (16/04/2026).

“HDDAP merupakan program yang memiliki peran strategis dalam mendorong pengembangan sektor hortikultura yang adaptif terhadap kondisi lingkungan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” ujarnya.

Menurutnya, program HDDAP mengusung pendekatan komprehensif, mulai dari peningkatan kapasitas petani, penguatan kelembagaan, penerapan teknologi tepat guna, hingga pengembangan rantai nilai produk hortikultura.

“Kami berharap HDDAP memberikan kontribusi nyata melalui penerapan teknologi pertanian, sehingga menghasilkan produk hortikultura yang berkualitas,” katanya.

KH. Imam Hasyim menjelaskan, Kabupaten Sumenep menjadi salah satu dari 13 daerah di Indonesia yang menerima program tersebut, dengan fokus pada tiga komoditas utama, yakni pisang, bawang merah, dan cabai.

Komoditas tersebut tersebar di lima kecamatan, meliputi Kecamatan Batuputih untuk pisang, Ambunten dan Rubaru untuk cabai, serta Guluk-Guluk dan Pasongsongan untuk bawang merah.

Berdasarkan data yang dipaparkan, komoditas pisang di Kecamatan Batuputih terbagi dalam dua klaster dengan total luas lahan 32,53 hektare. Sementara bawang merah tersebar di empat klaster di Kecamatan Guluk-Guluk seluas 49,77 hektare dan tujuh klaster di Kecamatan Pasongsongan seluas 53,94 hektare.

Adapun cabai rawit terbagi dalam dua klaster di Kecamatan Ambunten dengan luas 62,87 hektare serta 16 klaster di Kecamatan Rubaru dengan total luas mencapai 112,28 hektare.

“Kami ingin para petani bisa bertransformasi dari pola tradisional menuju pertanian yang lebih modern, produktif, dan berorientasi pasar,” tegasnya.

Ia menekankan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari peningkatan produksi, tetapi juga kemampuan menciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi tinggi.

Karena itu, pemerintah daerah mengajak seluruh pihak untuk bersinergi dan berkolaborasi agar program yang dijalankan benar-benar sesuai kebutuhan petani.

“Program ini harus menjadi ruang kolaborasi yang efektif, agar petani menjadi subjek utama dalam menjaga keberlanjutan program, untuk membangun pertanian di Kabupaten Sumenep,” pungkasnya.

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep