“Pendidikan Islam kehilangan arah bukan karena kurang metode, tetapi karena kaburnya identitas nilai dan pijakan keagamaannya.”
Oleh: Usman Adhim Hasan, S.H.I. (Penggiat Pendidikan & Pemerhati HKI, Guru di SMP Al-Maahira IIBS Malang)
Mediapribumi.id — Saya melihat bahwa lembaga pendidikan Islam justru berpotensi kehilangan identitas nilai (value), mengalami reduksi karakteristik, serta melemahnya daya sibghah adab dan bi’ah keagamaan, ketika tidak memiliki kejelasan paham keagamaan atau mazhab yang dianut sebagai fondasi nilai-nilai keberagamaannya.
Ketidakjelasan ini bukan sekadar persoalan administratif atau simbolik, melainkan berdampak langsung pada arah pembinaan, pola pengamalan, dan pembentukan karakter peserta didik. Akibatnya, praktik keagamaan menjadi cair tanpa pijakan metodologis yang kokoh, bahkan berpotensi terjebak pada relativisme yang mengaburkan batas antara prinsip dan preferensi.
Oleh sebab itu, dalam konteks fiqh terapan, praktik talfiq tidak dibolehkan, terlebih apabila bertujuan tatabbu‘ ar-rukhash, yaitu mencari kemudahan semata dengan menggabungkan pendapat – pendapat paling ringan dari berbagai mazhab. Sikap semacam ini bukan hanya melemahkan komitmen keberagamaan, tetapi juga merusak disiplin keilmuan dan konsistensi praksis beragama.
Keyakinan dan keterikatan pada satu pandangan keagamaan yang jelas akan berbanding lurus dengan kemampuan mengetahui dan memahami berdasarkan pandangan apa dan berdasarkan siapa suatu ajaran dipahami dan diamalkan. Dengan kejelasan inilah keberagamaan dapat dijalankan secara konsisten, bertanggung jawab, dan berakar kuat pada tradisi keilmuan Islam yang otoritatif.
Sebagai sampling, kejelasan fondasi paham dan mazhab inilah yang pada akhirnya menjadi pembeda nyata antara output lembaga pendidikan Islam tradisional, modern, dan postmodern. baik dalam cara berpikir, bersikap, maupun dalam praktik keberagamaan dan adab sosial yang dihasilkan.
Karena itu, saya berkeyakinan bahwa arah baru pendidikan Islam postmodern bukanlah meninggalkan identitas, melainkan kembali pada identitas nilai (value) yang autentik. Identitas inilah yang akan membentuk pendidikan Islam yang berkarakter, memiliki bi’ah yang khas dan sibghah yang kuat, sehingga mampu melahirkan output berkepribadian ulul albab. Sebagaimana ditegaskan dan diabadikan oleh Allah Swt. dalam Al-Qur’an.
(Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis)













