Berita

Mahasiswa UMM Angkat Nilai Luhur Kesenian Mberot, Tawarkan Pendidikan Karakter untuk Generasi Alpha

Avatar
304
×

Mahasiswa UMM Angkat Nilai Luhur Kesenian Mberot, Tawarkan Pendidikan Karakter untuk Generasi Alpha

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa UMM Angkat Nilai Luhur Kesenian Mberot, Tawarkan Pendidikan Karakter untuk Generasi Alpha

Mediapribumi.id, MALANG RAYA — Fenomena kesenian mberot atau bantengan kini tengah jadi sorotan publik. Popularitasnya kian meluas dengan tercatat 1.336 kelompok tersebar di Malang Raya: 980 kelompok di Kabupaten Malang, 243 di Kota Malang, dan 85 di Kota Batu.

Uniknya, kesenian rakyat ini tidak hanya digemari masyarakat umum, tetapi juga digandrungi anak-anak usia sekolah dasar, generasi yang kini dikenal sebagai alpha.

Namun, maraknya pertunjukan mberot juga kerap dibayangi stigma negatif. Tidak jarang, pentas berakhir ricuh, bahkan sampai memicu perkelahian antarkelompok. Konsumsi minuman keras dan kericuhan di sekitar pertunjukan makin menambah kekhawatiran, terlebih karena banyak pelakunya adalah anak-anak dalam masa perkembangan psikososial.

Kondisi ini mendorong sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan riset dalam skema Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH).

Riset yang dipimpin Meilisa Tri Adinda Putri bersama timnya—Febila Serlina Efendi, Fitriya Maharani, Ana Maulida Azura, dan Wiga Septiyan Vindiani—mengusung judul “Gayenge Malang: Kajian Pambudi Luhur Budaya Mberot Menggunakan Metode Gioia untuk Mitigasi Pergeseran Karakter Generasi Alpha di Wilayah Malang.”

“Selama ini mberot sering dicap negatif. Padahal, di dalamnya tersimpan nilai-nilai luhur yang bisa membentuk karakter anak-anak,” kata Meilisa saat ditemui di Kampus UMM. Selasa (23/09/2025).

Melalui metode Gioia, tim melakukan observasi di Desa Tajinan dan Kecamatan Turen (Kabupaten Malang), serta di Kota Malang dan Kota Batu. Mereka mewawancarai pelaku mberot anak usia SD, pemilik sanggar, guru, kepala sekolah, hingga penonton pertunjukan.

Tim peneliti pun menyusun strategi mitigasi berupa panduan berbasis nilai pambudi luhur yang bisa diterapkan di sanggar maupun sekolah dasar. Harapannya, generasi alpha tidak hanya menonton mberot sebagai hiburan, melainkan menjadikannya ruang pembelajaran moral, sosial, dan spiritual.

“Dengan riset ini, kami ingin berkontribusi dalam dua hal: melestarikan budaya lokal sekaligus menawarkan pendidikan karakter yang kontekstual bagi anak-anak,” ungkap Meilisa.

Sementara, pemilik salah satu sanggar menegaskan pentingnya regenerasi budaya.

“Kami ingin memperkenalkan budaya asli kita sejak dini, agar tidak hilang. Lewat bantengan, anak-anak belajar kebersamaan dan kebanggaan pada budaya sendiri,” ujarnya.

Hal itu dirasakan langsung oleh Reval, siswa SD asal Kota Malang. “Seru, banyak temannya. Latihan juga rame-rame,” ucapnya polos.

Hasil riset mengungkap, mberot memuat nilai pambudi luhur yang mencakup moral-etika, kearifan lokal, dan religius-spiritual. Dua nilai pertama bahkan dinilai paling dominan. Artinya, mberot bukan sekadar tontonan fisik, melainkan sarana internalisasi nilai bagi generasi muda.

Dosen pembimbing riset, Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, menekankan pentingnya reposisi makna mberot.

“Kalau yang ditonjolkan hanya sisi negatif, mberot akan terus dipandang buruk. Padahal, ada filosofi luhur yang bisa dijadikan pendidikan karakter. Mahasiswa hadir untuk mengembalikan makna itu,” jelasnya.

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep