Mediapribumi.id, Sumenep — Pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ganding memberikan klarifikasi resmi terkait beredarnya isu dugaan adanya ulat dalam puding buah naga serta kabar siswa muntah usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Mitra SPPG Ganding, Zaynollah menerangkan, informasi tersebut tidak benar dan telah diluruskan melalui proses verifikasi langsung di sejumlah sekolah.
Menurutnya, setelah menerima laporan dari grup PIC sekolah, tim langsung turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan bersama pihak sekolah.
Hasilnya, bagian yang diduga ulat dalam puding buah naga ternyata merupakan butiran putih dari buah naga yang mengendap setelah proses pengolahan dan pembekuan.
“Terkait dugaan ulat pada puding, setelah dilakukan pemeriksaan bersama, terbukti bukan ulat, melainkan bagian dari buah naga yang diproses,” terangnya. Kamis (09/04/2026).
Selain itu, isu mengenai siswa yang muntah juga dipastikan tidak benar. Berdasarkan hasil penelusuran di sekolah, tidak ditemukan siswa yang muntah setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.
Zaen melanjutkan, berdasarkan keterangan pihak sekolah, reaksi mual yang sempat terjadi pada beberapa siswa dipicu oleh kesalahpahaman. Saat itu, salah satu siswa mengira butiran putih dalam puding sebagai ulat, sehingga memicu reaksi spontan berupa rasa mual pada siswa lain.
“Namun setelah mendapat penjelasan dari guru, kondisi kembali normal,” tambahnya.
Ia juga membantah adanya intervensi terhadap pihak sekolah sebagaimana diberitakan oleh salah satu media. Kunjungan yang dilakukan pengelola disebut murni sebagai langkah cepat untuk melakukan verifikasi dan klarifikasi agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.
Di sisi lain, ia mengakui adanya evaluasi terhadap menu makanan. Beberapa siswa dan guru menilai rasa telur steam berbeda karena tercampur air acar dalam kemasan, serta metode pengolahan yang kurang sesuai dengan kebiasaan konsumsi siswa yang lebih familiar dengan telur goreng atau rebus.
Sebagai tindak lanjut, pihak SPPG Ganding menyatakan akan melakukan penyesuaian menu dan penyajian agar lebih sesuai dengan selera dan kebiasaan peserta didik.
Selain itu, ka juga menegaskan komitmennya dalam menjaga kualitas layanan, termasuk melakukan pengawasan ketat terhadap bahan makanan serta membuka ruang komunikasi dan evaluasi rutin dengan pihak sekolah.
“Kami menyampaikan permohonan maaf atas munculnya misinformasi yang sempat menimbulkan kekhawatiran di masyarakat,” tandasnya.













