Berita

Jalan Panjang KH Imam Hasyim Sumenep Dalam Pendidikan Pesantren dan Pengabdian

Avatar
×

Jalan Panjang KH Imam Hasyim Sumenep Dalam Pendidikan Pesantren dan Pengabdian

Sebarkan artikel ini
KH Imam Hasyim: Pendidikan Pesantren dan Pengabdian
Wabup Sumenep KH Imam Hasyim Saat Berada di Ruang Kerjanya.

Mediapribumi.id, Sumenep — Sebelum namanya dikenal sebagai Wakil Bupati Sumenep, KH Imam Hasyim adalah seorang pembelajar yang menempuh perjalanan pendidikan dari satu jenjang ke jenjang berikutnya. Jejak itu membawanya melewati berbagai fase kehidupan, hingga akhirnya pengalaman pendidikan tersebut menjadi salah satu fondasi dalam perjalanan pengabdiannya kepada masyarakat.

Pengembaraan Intelektual

Dia memulai pendidikan di pangkuan ayahnya sendiri, KH Hasyim Ali di Pondok Pesantren At Taufiqiyyah dan menamatkan pendidikan formal tingkat dasar hingga menengah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di pondok pesantren itu.

Setelah selesai di pendidikan yang diasuh oleh ayahnya itu, kemudian melanjutkan pengembaraan intelektual ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo selama sepuluh tahun tepatnya pada tahun 1977 hingga 1987.

“Di Pondok Pesantren Nurul Jadid saya mengikuti pendidikan formal dari tingkat Madrasah Aliyah (MA) hingga perguruan tinggi,” jelasnya saat ditemui di kantornya, Senin (10/08/2026).

Setelah sampai di pondok pesantren, ia mengikuti tes masuk MA, karena sudah memiliki bekal pengetahuan yang baik, lalu dinyatakan langsung memulai pendidikan formal dengan melompati kelas I dan langsung menduduki Kelas II MA Nurul Jadid. Prestasi itu terus naik hingga lulus MA, setiap semester selalu berada di tiga besar.

Selain menempuh pendidikan formal, ia juga mengikuti pendidikan pesantren dengan kajian ilmu agama secara mendalam seperti fiqh, tafsir, tasawuf, hadis, dan sebagainya. Pendidikan agama ini yang juga menjadi fondasi kuat pembentukan dirinya hingga menjadi seorang kiai dan pengasuh di pondok pesantren sepeninggal ayahnya.

Tak berhenti disitu, gairah untuk memperluas sekaligus memperdalam pengetahun terus mengalir. Setelah tamat MA, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu melanjutkan studi di perguruan tinggi yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Jadid juga, yakni Perguruan Tinggi Ilmu Dakwah (PTID) hingga meraih gelar Sarjana Muda.

KH Hasyim Ali, wafat pada 1981, saat itu KH Imam Hasyim masih berada di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, dan pesantren sementara diasuh oleh iparnya.

Setelah dia boyong tanggung jawab terhadap pesantren perlahan berada di pundaknya dan didapuk langsung oleh gurunya. Ia kemudian dipercaya untuk meneruskan pengasuhan Pondok Pesantren At Taufiqiyyah.

Jenjang pendidikan tinggi itu kemudian dilanjutkan di Universitas Kartini dan selesai pada 2004 dengan gelar Sarjana Hukum (S.H.). Namun, bagi Imam Hasyim, pendidikan tidak berhenti pada ruang-ruang kelas.

Usai mendapatkan gelar sarjana itu, dia melanjutkan studi magister di Universitas Narotama dan lulus pada tahun 2007 dengan gelar Magister Hukum (M.H).

Pengetahuan yang diperolehnya justru terus dipraktikkan melalui aktivitas mengajar. Hobi mengajar, khususnya mengkaji kitab kuning, telah dilakoninya sejak masih berada di lingkungan pesantren.

Mengajar baginya bukan sekadar aktivitas, melainkan bagian dari pengabdian yang tidak boleh ditinggalkan. Sesibuk apa pun kegiatan yang dijalani, ia berusaha tetap menyempatkan diri untuk mengajar.

“Saya hobi mengajar kitab sejak ada di pondok. Sesibuk apa pun kegiatan kami, tidak akan ditinggalkan. Kalau tidak mengajar, rasanya seperti berutang dan pasti diqada,” tuturnya.

Dedikasi: Pesantren, NU dan Politik

Aktivitas mengajar itu pula yang membuat dunia pesantren tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya, meski kemudian kesibukannya semakin bertambah. Bahkan ketika mulai memasuki dunia politik dan menjadi anggota DPRD, ia tetap menyempatkan waktu untuk kembali ke pesantren, terutama pada sore hingga malam hari.

Perjalanan pengabdian Imam Hasyim tidak hanya berhenti pada pendidikan dan pesantren. Setelah kembali dari Paiton, ia mulai aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Ia dipercaya menjadi pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Bluto dan menjabat sebagai Rais Syuriah, sebelum kemudian melanjutkan kiprahnya di tingkat Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep.

Dunia politik kemudian menjadi bagian lain dari perjalanan pengabdiannya. Pada 1999, ia terpilih sebagai anggota DPRD Sumenep dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Kemudian terpilih kembali pada tahun 2004. Selama periode 2004-2009, ia dipercaya menduduki posisi pimpinan komisi, termasuk Komisi D dan Komisi A.

Karier politiknya terus berlanjut. Pada periode 2009-2014, Imam Hasyim dipercaya menjadi Ketua DPRD Sumenep. Meski telah memasuki dunia politik dan menjalankan tugas sebagai wakil rakyat, aktivitasnya di pesantren tetap dipertahankan.

“Saya jadi anggota DPRD tetap masih aktif di pesantren, dari sore hingga malam,” ujarnya.

Konsistensi itu menjadi bagian dari prinsip yang terus dipegangnya. Jabatan, menurut Imam Hasyim, bukan alasan untuk meninggalkan kebiasaan dan pengabdian yang telah dijalani sejak lama.

Pengalaman menjadi santri, pengajar, pengasuh pesantren, aktivis NU, hingga politisi menjadi rangkaian panjang yang membentuk perjalanan hidupnya. Ketika kemudian dipercaya menjadi Wakil Bupati Sumenep, ia menganggap posisi tersebut bukan sebagai perubahan arah hidup, melainkan kelanjutan dari pengabdian.

“Menjadi pengasuh atau wabup saya anggap sebagai ibadah. Saya tidak merasa penat, karena ini bagian dari pengabdian. Sepanjang kami mampu, kami laksanakan,” katanya.

Kesibukan sebagai Wakil Bupati juga membuat aktivitas pengajian ke berbagai daerah yang sebelumnya cukup sering dilakukan harus dikurangi. Sebelum menjabat, ia bahkan kerap memenuhi undangan pengajian hingga luar kota, mulai Banyuwangi, Bali, Jakarta, hingga Kalimantan.

Menjaga Kesehatan

Meski demikian, ia berusaha mempertahankan pola hidup yang selama ini dijalani. Menurutnya, menjadi pejabat tidak harus mengubah gaya hidup secara berlebihan. Waktu istirahat tetap dijaga, sementara olahraga juga masih dilakukan secara rutin.

Jika dahulu bersepeda menjadi pilihan, kini ia lebih sering menggunakan treadmill. Olahraga dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore, menyesuaikan dengan kesibukan.

Prinsip Diri dan Kepemimpinan

Di tengah aktivitas pemerintahan, kebiasaan belajar juga tidak ditinggalkan. Menjelang tidur, ia masih menyempatkan diri melakukan muthalaah atau membaca kembali kitab. Tidak hanya kitab keagamaan, ia juga membaca berbagai bahan yang berkaitan dengan teori pemerintahan untuk menunjang tugasnya sebagai pejabat publik.

Ia juga kerap melakukan konsolidasi dengan asosiasi wakil kepala daerah untuk bertukar pandangan dan pengalaman dalam menjalankan pemerintahan.

Bagi Imam Hasyim, menjadi pejabat merupakan anugerah sekaligus amanah. Setiap kewenangan yang diberikan harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab karena pada akhirnya seluruh tindakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Prinsip itu tidak lepas dari pesan yang diterimanya dari orang tua, terutama KH Hasyim Ali. Salah satu pesan yang terus diingatnya adalah pentingnya menghormati dan memuliakan masyarakat.

Bagi Imam Hasyim, orang tua dan guru merupakan panutan utama. Nilai-nilai yang diperoleh dari keduanya menjadi bekal ketika ia menjalankan berbagai peran, baik sebagai pengasuh pesantren, aktivis NU, anggota legislatif maupun Wakil Bupati Sumenep.

Ia juga memandang seorang pemimpin harus mampu bersikap fleksibel. Pemimpin, menurutnya, tidak boleh kaku dalam menghadapi persoalan, tetapi harus mengedepankan kebijaksanaan dan musyawarah dalam mengambil keputusan.

“Apapun jabatan yang dimiliki harus didasari dengan ikhlas, karena semuanya akan dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Kini, perjalanan panjang tersebut membawanya berada di pemerintahan Kabupaten Sumenep. Bersama Bupati Sumenep, ia mengemban amanah untuk menjalankan roda pemerintahan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Menjadi Wakil Bupati, baginya, bukan tentang mengejar jabatan. Ia menyebut peran tersebut sebagai bagian dari ikhtiar untuk membantu Bupati membawa Sumenep menuju kondisi yang lebih baik.

“Saya menjadi wabup semata membantu Bupati untuk meningkatkan kemajuan Sumenep yang lebih baik. Harapannya, Sumenep mendapat rida Allah Swt,” pungkasnya.

Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!

Jadikan Sumber Pilihan
Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *