Mediapribumi.id, Sumenep — Tumpukan kayu gelondongan yang terdampar di pesisir Kecamatan Dungkek belum juga dievakuasi meski insiden itu telah berlangsung sepekan. Material kayu yang masih berserakan di sepanjang garis pantai itu terus menghambat aktivitas warga, khususnya nelayan dan pengelola serabut kelapa.
Warga Desa Bicabbi, Madsudi, menuturkan bahwa penanganan kasus ini masih berproses. Pertemuan lanjutan bersama pemilik kayu dan anak buah kapal (ABK) rencananya kembali digelar pada malam hari untuk membahas teknis evakuasi material.
“Sampai saat ini masih belum dievakuasi, masih dalam proses penanganan. Nanti malam masih akan rapat untuk teknis evakuasinya dengan pemilik kayu dan ABK,” ujar Madsudi, Jumat (25/09/2026).
Berdasarkan pendataan yang dilakukan warga, sedikitnya 39 perahu nelayan terkena dampak peristiwa ini. Rinciannya, enam perahu mengalami kerusakan parah dengan satu di antaranya karam, empat perahu rusak ringan, sementara sisanya hanya mengalami lecet pada bagian badan kapal.
“Sudah satu minggu sampai sekarang sejak kejadian,” katanya.
Pergerakan kayu yang mengikuti arus gelombang membuat nelayan harus lebih waspada saat beraktivitas. Di kawasan pesisir Dungkek sendiri terdapat tiga jenis kegiatan nelayan yang berjalan berdampingan, yaitu penggunaan perahu losongan tanpa mesin, sampan, serta pengambilan serabut kelapa yang direndam di laut.
Nelayan pengguna losongan, kata Madsudi, sebenarnya masih bisa melaut. Hanya saja, mereka harus menyingkirkan kayu terlebih dulu setiap kali hendak berangkat maupun merapat ke daratan.
“Kalau yang losongan itu bisa beraktivitas, tapi saat mau berangkat dan pulang harus memindahkan kayu. Kayu itu kan bergerak terus, jadi kalau mau lewat harus memindahkan kayu dulu,” jelasnya.
Kondisi berbeda dialami nelayan sampan. Mereka harus berjalan kaki menembus tumpukan kayu di pesisir untuk bisa mencapai perahu masing-masing.
Gangguan paling signifikan justru dirasakan warga pengelola serabut kelapa. Madsudi mencatat sekitar 60 lahan serabut kelapa terkena imbas kejadian ini, dengan 70 persen di antaranya tidak bisa dimanfaatkan karena tertimpa kayu gelondongan.
“Kalau yang serabut kelapa, 70 persen tidak bisa mengambil serabutnya karena tertimpa kayu-kayu itu,” ungkapnya.
Serabut kelapa tersebut selama ini menjadi bahan baku pembuatan sapu, keset kaki, hingga tali tambang bagi warga setempat. Terhambatnya produksi otomatis membuat warga kehilangan sumber penghasilan, di luar kerugian akibat kerusakan perahu.
Warga telah membentuk forum dan melakukan pendataan kerugian, yang kemudian diserahkan kepada pihak pemilik kayu sebagai dasar penanganan lebih lanjut.
“Intinya kerugiannya ada finansial dan nonfinansial,” tegas Madsudi.
Diketahui, Ratusan kayu gelondongan mulai terdampar di pesisir Desa Bicabbi, Desa Romben Guna, dan Desa Dungkek pada Sabtu (19/09/2026) lalu. Kayu-kayu tersebut merupakan muatan tongkang TK Lintas Samudera XXIII yang ditarik oleh kapal tunda TB Yamdena 03 dalam pelayaran dari Kalimantan Timur menuju Probolinggo.
Material mulai terbawa gelombang dan mendarat di sejumlah titik pesisir sekitar pukul 18.00 WIB. Jumlahnya terus bertambah hingga pukul 22.00 WIB, memenuhi beberapa kawasan pantai di Kecamatan Dungkek. Kayu-kayu yang terdampar tergolong berukuran besar, dengan diameter sekitar 3 meter dan panjang mencapai 12 meter.
Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!













