Example floating
Example floating
Opini

Guru Penggerak dan Keharusan Bermetamorfosis

97
×

Guru Penggerak dan Keharusan Bermetamorfosis

Sebarkan artikel ini
Guru penggerak dan keharusan bermetamorfosis
FOTO: Guru dan Siswa (photo: www.alamy.com)
Example 468x60

Guru Penggerak dan Keharusan Bermetamorfosis

Oleh: Dr. Nurwidodo, M.Kes.
(Kepala Lab LMT FKIP UMM, Dosen Pendidikan Biologi, dan Pengurus ALSI)

OPINI, Mediapribumi.id — Kiprah dan reputasi guru penggerak telah nyaring terdengar di telinga kita. Awalnya banyak orang meragukan kemampuannya.

Sekarang mereka sudah diterima publik dan berperan aktif di masyarakat atau dunia pendidikan, baik di tingkat dasar menengah (guru) maupun di perguruan tinggi (dosen). Harapan yang tersemat pada guru penggerak adalah mereka merepresentasikan diri sebagai seorang pemimpin atau leader.

Gambaran seorang guru leader adalah guru yang piawai dalam memimpin pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas. Secara ideal guru tersebut merepresentasikan sebagai aktor idola, sebagai betara guru dalam mengajar di dalam maupun di luar kelas. Kehadirannya dalam pembelajaran sangat dinantikan oleh murid-muridnya.

Ditangan guru penggerak, kelas ibaratnya sebuah panggung pertunjukan. Mengajar adalah mempertunjukkan kehebatan dalam permainan peran. Perilaku mengajar diset up sebagai pertunjukan bak dramaturgi. Dalam setingan demikian itu maka penampilan mengajar guru mengalir dalam stadium pertunjukan awal, pertunjukan klimaks (puncak) dan pertunjukan antiklimaks (stage down) yang memukau sehingga murid-murid sangat menikmati acting guru dengan penuh perlekatan atau attachment. Sering-sering sampai lupa waktu, mengalir tidak terasa. Bahkan ketika harus berhenti, murid-murid merasa kecewa dan minta dilanjutkan.

Tentu saja ini adalah pengetengahan performance guru ideal yang masih bisa diperdebatkan. Apakah memungkinkan?
Menurut Arief (2020) guru penggerak dibentuk secara bertahap. Tahapan pertama adalah guru harus mampu dan menguasai kompetensi dasar mengajar (paedagogical skill). Kedua, guru harus mahir dalam penguasaan TPACK, HOTS,dan model pembejaran inovatif. Ketiga adalah guru harus menguasai learning trajectory atau lintasan belajar siswa, melakukan refleksi pembelajaran atau sebagai guru reflektif.

Suzuki (2019) terlebih dahulu menyatakan bahwa guru leader seharusnya mampu mengoperasikan mindset pada taraf metakognisi, harus menempatkan diri sebagai pendengar yang baik atas proses belajar siswa dan hasil belajar yang diperolehnya. Dalam pembelajaran, mungkin saja guru akan lebih banyak senyap, sementara itu murid-muridnya yang justru riuh rendah berdiskusi tentang konsep yang dipelajarinya. Suatu gambaran pembelajaran oleh guru penggerak yang ideal, yang telah mengalami suatu peristiwa metamorfosis dalam jiwa kependidikannya.

Realistis ataukah utopia?
Sekali lagi ditegaskan bahwa metamorfosis guru penggerak berlangsung dalam tiga tahapan. Tahap pertama adalah fase pembentukan keterampilan dasar mengajar, tahap kedua adalah fase penguatan TPACK, HOTS, dan model pembelajaran inovatif dan tahap ketiga adalah penguatan kemampuaan metakognisi pembelajaran.

Metamorfose Tahap Pertama

Keterampilan Dasar Mengajar adalah metamorfosis tahap pertama guru penggerak. Keterampilan dasar mengajar ini wajib dimiliki oleh setiap guru, sehingga seorang calon guru baru bisa dikatakan siap mengajar bila telah menguasai dengan baik keterampilan dasar mengajar.

Keterampilan dasar mengajar perlu dikuasai oleh setiap guru, terlepas dari bidang studi apapun yang diajarkan. Keterampilan dasar mengajar (teaching Skill) adalah kemampuan atau keterampilan yang bersifat khusus (most specific instructional behaviors) yang harus dimiliki oleh guru, dosen, instruktur atau widyaiswara agar dapat melaksanakan tugas mengajar secara efektif, efesien dan professional (Giloman, 1991). Dalam mengajar ada dua kemampuan pokok yang harus dikuasai oleh seorang tenaga pengajar, yaitu; 1. Menguasai materi atau bahan ajar yang akan diajarkan (what to teach) 2. Menguasai metodologi atau cara untuk membelajarkannya (how to teach).

Keterampilan dasar mengajar termasuk ke dalam aspek how to teach yaitu bagaimana cara membelajarkan peserta didik. Kerampilan dasar meliputi : 1. Keterampilan membuka pelajaran, 2. Keterampilan memberi motivasi, 3. Keterampilan bertanya, 4. Keterampilan menerangkan, 5. Keterampilan mendayagunakan media, 6. Keterampilan menggunakan metode yang tepat, 7. Aspek mengadakan interaksi, 8. Keterampilan penampilan verbal non verbal, 9. Keterampilan penjajagan/assessment, dan 10. Keterampilan menutup pelajaran

Metamorfosis tahap kedua

Penguasaan TPACK, HOTS, dan Model Pembelajaran adalah metamorfosis tahap kedua dari guru penggerak. Guru penggerak dituntut untuk menguasai TPACK sehubungan dengan perkembangan teknologi yang perlu dimanfaatkan dalam pembelajaran. Memasuki revolusi industri 4.0, dunia pendidikan dituntut untuk mengkonstruksi pembelajaran yang melibatkan teknologi.

Pendidikan 4.0 merupakan istilah yang digunakan oleh para ahli pendidikan untuk menggambarkan cara mengimplementasikan teknologi ke dalam pembelajaran. Pendidikan 4.0 menuntut guru menguasai teknologi untuk diintegrasikan dalam proses pembelajaran. Terdapat banyak manfaat dalam penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Nasution (2018) menjabarkan manfaat teknologi dalam proses pembelajaran yaitu, 1) bagi siswa meningkatkan perhatian, konsentrasi, motivasi, dan kemandirian, 2) bagi guru dapat mereduksi penggunaan waktu penyampaian materi, membuat pengalaman belajar siswa
Guru dituntut untuk memberdayakan kemampuan bepikir siswa pada tingkat tinggi atau HOTS. Menurut Junaidi et al. (2020), kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan memanipulasi informasidan gagasan dengan cara kritis sehingga mampu memecahkan masalah secara kreatif. Hal ini sejalan dengan pendapat Wulandari et al. (2020), bahwa Higher-Order Thinking Skills (HOTS) merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi pada proses kognitif yang dapat dikembangkan saat siswa menyelesaikan masalah di mana informasi yang baru digabungkan dengan informasi lama secara kreatif dalam membuat suatu keputusan. HOTS is also a thinking ability that arises from a combination of several other complex thinking skills (Pulungan et al., 2021). Jadi, HOTS adalah keterampilan berpikir seseorang yang kompleks dalam membuat keputusan untuk menyelesaikan suatu masalah dengan menggabungkan berbagai informasi.

Guru yang mengalami metamorfosis level kedua diharapkan menguasai model pembelajaran inovatif atau modern. Model pembelajaran inovatif adalah suatu pendekatan atau metode pembelajaran yang menggunakan cara-cara baru yang kreatif dan mengedepankan pemikiran kritis, keterlibatan aktif, dan partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa secara mandiri, kreatif, dan inovatif, sehingga mereka dapat menghasilkan ide-ide baru, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Model pembelajaran inovatif ini berbeda dengan pendekatan pembelajaran tradisional yang lebih bersifat instruktif, di mana guru berperan sebagai sumber informasi utama dan siswa lebih pasif dalam menerima pengetahuan. Model pembelajaran inovatif melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran, seperti diskusi kelompok, proyek kolaboratif, eksperimen, simulasi, dan multimedia interaktif.
Beberapa contoh pembelajaran inovatif antara lain adalah cooperative learning, problem-based learning, project-based learning, inquiry-based learning, flipped classroom, dan pengkondisian belajar dengan blended learning. Model, pendekatan, dan pengkondisian ini menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada siswa, di mana mereka menjadi pusat dari proses pembelajaran dan guru berperan sebagai fasilitator, pembimbing, dan pengarah.

Metamorfosis tahap ketiga

Penguasaan lintasan belajar (learning trajectory), refleksi dan metakognisi adalah metamorphosis tahap ketiga dari seorang guru penggerak. Learning trajectory yaitu lintasan atau rute belajar yang memberikan gambaran tentang pengetahuan prasyarat yang telah dimiliki siswa (sebagai titik start) dan setiap langkah dari satu titik ke titik berikutnya, menggambarkan proses berpikir yang siswa gunakan, metode yang siswa pakai, ataupun tingkat-tingkat berpikir yang siswa tunjukkan
Pengetahuan lintasan perkembangan meningkatkan pemahaman guru tentang pemikiran anak-anak, guru membantu menilai tingkat pemahaman anak-anak dan menawarkan kegiatan pembelajaran pada tingkat itu. Demikian pula, guru secara efektif mempertimbangkan tugas instruksional dari sudut pandang anak.

Bagian kedua dari lintasan belajar terdiri dari tingkatan-tingkatan berpikir, mulai dari yang mudah sampai yang rumit, untuk membawa siswa agar dapat mencapai tujuan pembelajaran matematika yang telah ditetapkan. Kemajuan perkembangan yang dibuat guru menggambarkan sebuah lintasan tertentu yang akan diikuti oleh siswa dalam mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka tentang suatu topik pelajaran Guru reflektif Kemampuan berpikir reflektif sangat dibutuhkan oleh guru.

Hal ini dikarenakan guru pasti menghadapi berbagai permasalahan di setiap harinya. Dengan kemampuan reflektif ini, guru akan mampu untuk memproses sesuatu yang mereka miliki sebagai cara penyelesaian dari masalah tersebut. Kemampuan ini sangat cocok dimiliki mereka yang mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan, yaitu guru.

Ketika seseorang memiliki kemampuan berpikir reflektif, maka ia sesungguhnya memiliki kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, memotivasi, dan mendapatkan makna yang mendalam. Begitu pula dengan guru. Jika guru memiliki kemampuan reflektif seperti yang sudah dijelaskan, maka ia akan mampu menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan. Strategi pembelajaran akan lebih terarah dan tepat guna jika dilakukan oleh guru yang memiliki kemampuan reflektif.

Guru yang memiliki kemampuan reflektif akan menghargai usaha siswa, sekali pun hasil yang diberikan tidak sesuai harapan. Ia akan terus menyemangati siswa untuk dapat bertumbuh hingga siswa mampu memperbaiki kekeliruan mereka saat menyelesaikan soal atau latihan di waktu sebelumnya. Guru akan mencoba untuk mematangkan konsep dasar bidang ilmu yang diajarnya agar siswa dapat mengaplikasikan di berbagai konteks permasalahan. Dengan demikian, guru berhasil melahirkan generasi muda yang hebat di masa yang akan datang.

Kemampuan metakognisi merupakan kemampuan seseorang dalam memikirkan, memahami, dan menindaklanjuti proses berpikirnya dengan kata lain, proses berpikir dirinya sendiri menjadi objek dari berpikirnya. Kemampuan metakognisi merupakan kemampuan kognisi tingkat tinggi yang diperlukan untuk manajemen pengetahuan dimana seseorang dituntut untuk mengatur tujuan belajarnya sendiri dan menentukan strategi belajar yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Menurut Swartz dan Chang, level metakognisi manusia dalam menyelesaikan masalah ada 4 tingkatan, yaitu : 1) tacit use, pemikiran yang tidak disadari 2) aware use ialah pemikiran yang disadari. 3) strategic use yaitu pemikiran yang strategis. 4) reflective use yaitu pemikiran yang reflektif.
Kemampuan metakognitif memiliki peran penting dalam mengatur dan mengontrol proses-proses kognitif seseorang dengan belajar dan berpikir, sehingga proses belajar dan berpikir yang dilakukakan seseorang menjadi lebih efektif dan efisien.

Penutup

Metamorfosis yang tuntas pada guru penggerak dimulai dari penguasaan yang sempurna terhadap keterampilan dasar mengajar, penguasaan atas TPACK, HOTS, dan model pembelajaran inovatif. Metamorfosis guru penggerak akan sempurna bilamana sampai pada level metakognisi.

Bilamana kemampuan metakognisi ini dipenuhi maka guru penggerak akan mampu menjelma menjadi pemimpin atau leadership. Skill leadership adalah kemampuan untuk memotivasi, mengarahkan, dan menginspirasi orang lain dalam mencapai tujuan bersama. Seorang pemimpin dengan skill leadership yang baik mampu mengidentifikasi masalah, mencari solusi yang tepat, serta mengambil keputusan yang bijaksana untuk kepentingan bersama.

Seorang pemimpin adalah orang yang bertanggung jawab, orang yang meyakinkan orang lain untuk mengikutinya. Seorang pemimpin yang hebat menginspirasi kepercayaan pada orang lain dan menggerakkan mereka untuk bertindak. Pemimpin membantu diri mereka sendiri dan orang lain untuk melakukan hal yang benar.

Begitulah gambaran sempurna dari seorang guru penggerak yang berproses melalui metamorfosis menjadi guru yang memiliki kemampuan leadership, reflektif dan metakognitif. Tentu kita mengharapkan itu dapat terjadi. Semoga

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *