Hari ini kita kader PMII di pertontonkan sebuah fenomena yang mencemaskan dualisme dalam tubuh Pengurus Besar Ikatan Alumni PMII (PB IKA PMII). munculnya dua kubu kepengurusan yang di ketuai Fathan Subchi (Anggota BPK-RI) dan satunya Slamet ariyadi (Anggota DPR-RI).
Bagaimana mungkin para alumni dari organisasi kader ini, yang seharusnya menjadi teladan bagi generasi muda PMII, justru terjebak dalam konflik internal yang dengan nuansa politis, ego sektoral, dan kepentingan kekuasaan?.
PMII bukan sekadar organisasi biasa ia adalah kawah candradimuka bagi kaderisasi kepemimpinan bangsa berbasis nilai-nilai ke-PMII-an. Maka ketika para alumninya terjebak dalam konflik, pesan yang sampai ke bawah adalah bahwa kaderisasi gagal membentuk karakter pemimpin yang dewasa dan visioner
Generasi muda PMII tentu melihat dan menilai bagaimana para senior mereka bersikap. Ketika yang mereka saksikan adalah perebutan posisi, pembentukan forum-forum tandingan, maka hilanglah nilai-nilai ukhuwah, tawadhu’, dan musyawarah yang selama ini digaungkan dalam proses kaderisasi.
Tak bisa dipungkiri bahwa ada aroma kuat motif politik dalam dualisme ini. Banyak tokoh PB IKA PMII yang juga merupakan politisi aktif atau memiliki kepentingan dalam struktur kekuasaan dan kedekatan dengan partai tertentu
Yang dibutuhkan hari ini bukan siapa yang menang dalam konflik ini, tetapi siapa yang berani mengalah demi organisasi. jika konflik ini terus berlangsung, maka bukan tidak mungkin kader-kader muda akan kehilangan arah dan kehilangan hormat pada senior-senior mereka. Karna nantinya kita kebingungan kubu siapa yang harus kita ikuti
Rekonsiliasi harus menjadi agenda utama. refleksi bersama tentang tujuan kealumnian. IKA PB PMII harus didesain ulang sebagai wadah kontribusi, bukan kontestasi.
PB IKA PMII bukan sekadar organisasi alumni ia adalah cermin dari keberhasilan atau kegagalan proses kaderisasi PMII. Jika cerminnya retak karena konflik dan ambisi pribadi, maka yang terlihat juga akan buram. Saatnya para alumni merenung apakah mereka sedang membesarkan nama PMII atau justru mempermalukannya di hadapan publik
Kader aktif membutuhkan teladan, bukan tontonan konflik. Maka menjadi kewajiban moral bagi para tokoh alumni untuk segera mengakhiri dualisme ini, bukan karena tekanan publik, tetapi karena kesadaran bahwa sejarah akan mencatat siapa yang merusak dan siapa yang merawat warisan besar bernama PMII.
Catatan: Moh. Farhan Aziz
Kader PMII KOTA MALANG













