Mediapribumi.id — Ada kalanya cahaya tampak terang bukan karena kebenaran yang dikandungnya, melainkan karena kegelapan di sekitarnya terlalu pekat. Dalam hiruk-pikuk Dunia Maya, sebuah opini beredar luas menyala-nyala, mengkritik dikemas opini pihak lain sebagai sumber redupnya cahaya bagi masyarakat. Tulisan itu berbicara lantang tentang tanggung jawab dan moral publik, menguliti kebijakan yang dianggap lalai menyalakan cahaya bagi masyarakat. Katanya, lembaga besar itu gagal menjaga nyala, gagal memberi terang, gagal menepati janji pelayanan. Kalimatnya tajam, diksi-diksinya berwibawa, seolah ia berbicara dari podium kebenaran.
Namun seperti listrik yang tak stabil, sorot moral dari sang penulis justru berkedip-kedip di antara narasinya sendiri. Di balik tulisan yang menuntut keterbukaan, publik melihat bayangan panjang dari sikap yang tak selaras: laporan keuangan lembaganya sendiri tak kunjung jelas, keputusan diambil sepihak, dan suara anggota yang berbeda arah diredam halus atas nama kebersamaan. Ironi pun tercipta: ia menuntut transparansi dari institusi yang jauh di atas sana, namun lupa menyalakan lampu kecil di ruang kepemimpinannya sendiri.
Dan di sinilah pertanyaan itu muncul, tajam sekaligus getir: apakah sorot yang dulu kita anggap cahaya itu masih benar-benar menerangi, atau hanya ilusi dari refleksi kaca yang berdebu? Apakah suara yang mengaku mewakili kebenaran itu masih berasal dari nurani, atau sekadar gema ambisi yang dibungkus kata-kata manis?
Pertanyaan itu menggema di ruang digital, menembus batas layar, menyentuh nurani yang semula percaya pada setiap kata “kritis” yang ditulisnya. Sebab publik kini kian jernih menilai: tidak setiap kritik lahir dari keberanian, kadang ia tumbuh dari kepentingan. Tidak setiap cahaya menuntun, kadang ia menyilaukan agar yang di belakang tak terlihat.
Ironinya, sang pengkritik yang semula dielu-elukan kini justru menjadi cermin paradoks. Ia mengkritik lembaga penyedia cahaya yang dianggap gagal menyalakan terang, namun lupa bahwa cahaya moral di ruang kepemimpinannya sendiri tengah melemah. Kritiknya tentang “terang yang padam” menjelma jadi alegori tentang dirinya sendiri-tentang sosok yang ingin menjadi pelita, tapi tak sadar sumbunya telah basah oleh ambisi.
Namun di balik semua itu, ini bukan sekadar kisah tentang seseorang atau sebuah lembaga. Ini adalah potret zaman, di mana opini lebih cepat lahir daripada refleksi, dan moral sering kali dikorbankan di altar citra. Dunia kini penuh dengan cahaya-lampu, layar, sorotan—namun sedikit sekali yang benar-benar menerangi.
Cahaya, sejatinya, tidak memerlukan panggung atau pujian. Ia hanya butuh keikhlasan untuk tetap menyala, bahkan ketika tak ada yang menonton. Dan mungkin, dalam riuh kritik yang berseliweran di dunia maya, yang paling layak diterangi bukanlah ruang luar, melainkan hati para penyeru terang itu sendiri.
Catatan: Sultan, Pemuda Kepulauan Sapeken.













