Mediapribumi.id, Thailand — Pesantren Azmania Ponorogo mengambil langkah strategis menuju internasionalisasi pendidikan dengan menjalin kerja sama bersama tiga institusi pendidikan Islam terkemuka di Thailand Selatan.
Kunjungan resmi yang berlangsung pada 10–12 Juni 2025 ini dipimpin langsung oleh Pimpinan Pesantren Azmania, Ustadz Ahmad Baidowi, S.T., dan diikuti oleh sembilan ustadz dan ustadzah dalam delegasi resmi.
Dalam kunjungan tersebut, Azmania menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Bumrungsuksa Islamic Boarding School (Hat Yai, Songkhla), Attarkiah Islamic Institute (Narathiwat), dan Lukmanulhakeem Islamic School (Yala). Kerja sama ini mencakup pertukaran pelajar dan guru, pemberian beasiswa, pengembangan kurikulum, hingga penyelenggaraan konferensi bersama.
“Kami percaya bahwa era globalisasi menuntut institusi pendidikan Islam untuk berjejaring lebih luas. Melalui kerja sama ini, kami ingin memberikan pengalaman internasional kepada siswa dan tenaga pendidik kami,” ujar Ustadz Ahmad Baidowi. Rabu (11/6/2025).
Dalam rombongan tersebut, hadir pula Associate Professor Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd. dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang berperan sebagai fasilitator sekaligus penghubung antara institusi pendidikan Indonesia dan Thailand.
Tiga Pilar Kerja Sama
Kerja sama pertama dilakukan dengan Bumrungsuksa Islamic Boarding School di Songkhla, yang dipimpin oleh Mr. Hawaree Lambensau. Azmania menyediakan tiga beasiswa penuh bagi santri Bumrungsuksa untuk melanjutkan studi di Ponorogo pada tahun ajaran 2025/2026.
“Ini adalah peluang emas bagi santri kami untuk mendapat pengalaman pendidikan lintas negara dan budaya,” kata Mr. Hawaree.
Di Narathiwat, Azmania menjalin kemitraan dengan Attarkiah Islamic Institute, sekolah Islam terbesar di provinsi tersebut. Fokus kerja sama meliputi pertukaran pelajar dan guru, penyelenggaraan konferensi bersama, dan upaya memperoleh pengakuan internasional untuk kedua lembaga.
“Dengan semangat kolaboratif, institusi Islam di Asia Tenggara dapat menjadi lebih kuat dan berdampak,” ujar Mr. Phaisan Thoryib, pimpinan Attarkiah.
Sementara itu, kerja sama dengan Lukmanulhakeem Islamic School di Yala lebih menekankan pada pengembangan soft skill santri, kurikulum berbasis kompetensi, serta pertukaran pelajar dan tenaga pengajar.
“Santri perlu dibekali kemampuan sosial, komunikasi, dan kepemimpinan. Kami melihat Azmania sebagai mitra strategis,” ungkap perwakilan Lukmanulhakeem.

Penguatan Peran Pesantren
Associate Prof. Dr. Husamah menegaskan bahwa kerja sama ini menjadi bukti transformasi pendidikan Islam yang adaptif terhadap zaman. “Pesantren bisa menjadi pusat inovasi dan kontribusi global,” ujarnya.
Selama kunjungan, delegasi Azmania juga aktif berdiskusi soal digitalisasi pesantren, metode dakwah modern, serta peluang riset dan pelatihan guru bersama.
Program kerja sama ini diyakini membawa dampak langsung bagi santri dan guru. Selain pengalaman lintas budaya, para santri Thailand penerima beasiswa akan belajar dalam sistem pendidikan pesantren khas Indonesia yang menekankan kedisiplinan, karakter, dan nilai-nilai keislaman.
“Saya ingin belajar agama, budaya, dan bahasa di Indonesia,” ujar Nawawi, calon penerima beasiswa dari Bumrungsuksa.
Menuju Pesantren Bertaraf Global
Dengan ketiga MoU ini, Azmania memperkuat posisinya sebagai lembaga pendidikan Islam berwawasan internasional. Rencana ke depan mencakup pertukaran budaya, pelatihan guru internasional, hingga pembukaan program satelit di luar negeri.
“Kami tidak berhenti di sini. Ini adalah awal dari cita-cita besar menjadikan Azmania sebagai pusat peradaban pendidikan Islam yang mendunia,” tegas Ustadz Ahmad Baidowi.
Melalui pendekatan kolaboratif dan terbuka terhadap inovasi, Pesantren Azmania membuktikan bahwa pesantren bisa menjadi garda depan dalam mencetak generasi Muslim unggul dan siap bersaing di kancah global.














Kenapa Thailand?