BeritaEkonomiPendidikan

Prodi Pendidikan Biologi UMM Berdayakan Warga Tulungrejo Lewat Pelatihan Batik Shibori

Avatar
210
×

Prodi Pendidikan Biologi UMM Berdayakan Warga Tulungrejo Lewat Pelatihan Batik Shibori

Sebarkan artikel ini
Prodi Biologi UMM Berdayakan Warga Tulungrejo Lewat Pelatihan Batik Shibori
Hasil Pelatihan Pembuatan Batik Shibori FKIP UMM

Mediapribumi.id, Batu — Semangat kemandirian ekonomi tumbuh di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, setelah digelarnya pelatihan pembuatan batik Shibori yang diinisiasi tim pengabdian masyarakat dari Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Kegiatan berlangsung di aula desa setempat sebagai wujud nyata kontribusi kampus dalam pemberdayaan berbasis keterampilan aplikatif. Rabu (18/02/2026).

Tim pengabdian yang terdiri atas Dra. Siti Zaenab, M.Kes., Dra. Sri Wahyuni, M.Kes., Muhammad Rifky Ardiansyah, dan Mochamad Iffan membuktikan bahwa disiplin ilmu biologi dapat diaplikasikan melampaui ruang laboratorium—termasuk dalam pengembangan ekonomi kreatif melalui teknik pewarnaan tekstil.

Kepala Desa Tulungrejo, Suliyono, menyambut positif kolaborasi ini sebagai langkah strategis peningkatan kapasitas sumber daya manusia desa.

“Kami sangat berterima kasih kepada tim dari Pendidikan Biologi FKIP UMM yang telah memilih Desa Tulungrejo sebagai mitra pengabdian. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi warga kami,” ujarnya.

Antusiasme masyarakat melampaui perkiraan panitia. Dari kuota 18 peserta, sebanyak 23 warga hadir dan aktif mengikuti seluruh rangkaian pelatihan hingga tuntas.

Dalam sesi materi, Siti Zaenab menjelaskan teknik Shibori sebagai metode pewarnaan kain melalui proses melipat, mengikat, atau menjepit sebelum pencelupan.

“Teknik ini relatif sederhana, tetapi mampu menghasilkan motif artistik dan bernilai jual tinggi. Kami ingin memberikan keterampilan yang mudah dipraktikkan dan berpotensi menjadi peluang usaha rumahan,” terangnya.

Pendekatan pelatihan dirancang partisipatif dengan penekanan pada praktik langsung. Setiap peserta didorong mengeksplorasi pola lipatan dan teknik ikatan untuk menciptakan motif unik.

Suasana aula desa pun hidup dengan aktivitas melipat kain, mengikat menggunakan karet atau tali, hingga proses pencelupan warna yang didampingi intensif oleh tim pengabdian.

Hasilnya menggembirakan: 23 peserta berhasil menghasilkan 23 produk batik Shibori dengan karakteristik beragam—mulai dari pola lingkaran simetris hingga motif abstrak artistik.

Keberagaman karya ini membuktikan bahwa meski menggunakan teknik dasar serupa, setiap individu mampu mengekspresikan kreativitas secara khas.

Muhammad Rifky Ardiansyah menilai kualitas produk tahap awal sudah cukup baik dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut.

“Dengan latihan berkelanjutan serta peningkatan pada aspek pengemasan dan pemasaran, produk Shibori dari Tulungrejo bisa memiliki daya saing di pasar lokal maupun wisata Kota Batu,” ungkapnya.

Sementara, Mochamad Iffan turut memotivasi peserta untuk tidak berhenti pada satu kali pelatihan.

“Konsistensi dan inovasi menjadi faktor penting dalam membangun usaha kreatif. Kalau terus dilatih dan dikembangkan, bukan tidak mungkin Desa Tulungrejo memiliki produk Shibori unggulan yang dikenal luas,” tegasnya.

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep