Berita

Sejarah Sastra, Laut Pengetahuan: Catatan Perubahan Cara Pandang dalam Satu Semester

Avatar
224
×

Sejarah Sastra, Laut Pengetahuan: Catatan Perubahan Cara Pandang dalam Satu Semester

Sebarkan artikel ini
Sejarah Sastra, Laut Pengetahuan: Catatan Perubahan Cara Pandang dalam Satu Semester
Safira Nur Asriansyah, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya

Oleh: Safira Nur Asriansyah, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya

 

Pendahuluan

Mata kuliah Sejarah Sastra mungkin bagi sebagian orang merupakan mata kuliah yang membosankan, mempelajari sejarah adanya sastra di Indonesia, menghafal banyak periodesasi sastra, pengenalan tokoh-tokoh penting, serta karakter khas tiap angkatan hingga mengingat mana pembeda dari semua periode sastra. Itu yang saya pikirkan sejak awal mendapatkan mata kuliah ini, pasti membosankan.

Awalnya tak banyak harapan yang bisa saya tumbuhkan, hanya saja saya selalu menanamkan bahwa sesulit apapun mata kuliah, saya harus bisa menggapainya. Namun, seiiring waktu berjalan, saya justru menyadari bahwa mata kuliah ini seakan mengajak kita berkeliling menjelajahi sejarah sastra melalui pembelajaran kuliah. Pembelajaran tidak membosankan, yang selalu dikemas dengan kolaborasi mahasiswa bahkan menarik pemikiran kritis mahasiswa, yang menjadikan pemikiran saya berubah seratus delapan puluh derajat tentang mata kuliah ini.

Refleksi

Mata kuliah ini identik sekali dengan periodesasi sastra, mulai dari Pra-kemerdekaan, Pujangga Baru, Balai Pustaka, Angkatan ’45, Angkatan ’66–’98, hingga Sastra Kontemporer. Dari keenam hal tersebut tentu memiliki perbedaan. Jika membahas terkait periode sastra Pra-Kemerdekaan berkaitan erat dengan nilai moral, religius, dan pelajaran hidup sangat kuat, seperti Hikayat, Syair, Legenda, Pantun, Mitos, dan Gurindam. Contohnya, Raja Ali Haji si penyusun Gurindam Dua Belas.

Selanjutnya, pada angkatan Pujangga Baru identik sekali dengan terbitnya majalah Poedjangga Baroe. Gaya bahasanya biasanya cenderung indah, puitis dan teratur. Salah satu tokoh yang berada di angkatan ini adalah Sutan Takdir Alisjahbana dengan novelnya yang berjudul Layar Terkembang, yang mengusung tema modernitas, perjuangan hak perempuan dan benturan nilai-nilai lama (tradisi) dengan nilai-nilai baru (barat).

Selanjutnya ada angkatan Balai Pustaka, pada angkatan ini identik dengan bahasa yang rapi, tema sosial, dan gaya realis karena terpengaruh kebijakan kolonial Belanda dalam pendidikan. Salah satu karya yang terkenal pada angkatan ini adalah novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli yang kental akan budaya perjodohan dengan pandangan modern tentang cinta dan kebebasan.

Ini menunjukkan karakter realis dan kritik sosial khas Balai Pustaka, meski tetap dalam batas “aman” sesuai kebijakan kolonial. Lalu ada Angkatan ’45 yang kental akan kebebasan, menciptakan sastra baru yang bebas, lugas, dan ekspresif. Salah satu tokoh yang menggambarkan angkatan ini adalah Chairil Anwar, yang terkenal akan puisinya yang lahir dengan gaya baru daripada angkatan sebelumnya.

Ada juga Angkatan ’66–’98 yang terkenal akan gaya alegoris, banyak karya menjadi bentuk perlawanan halus maupun terang-terangan terhadap kekuasaan. Salah satu contoh karyanya adalah “Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan” karya Pramoedya Ananta Toer. Akhirnya sampai di bagian akhir dari periodesasi sastra, yaitu angkatan Sastra Kontemporer yang erat sekali kaitannya dengan keragaman bentuk, medium, identitas, dan suara, tanpa batasan tema atau gaya tertentu.

Karya-karya pada sastra kontemporer sangat beragam, terutama digitalisasi yang semakin meluas, sehingga banyak penulis yang menulis karya sastranya di media digital, salah satunya Wattpad. Selain melalui hal tersebut, ada salah satu karya sastra karangan Ayu Utami, berjudul “Saman” sebagai simbol kebebasan reformasi.

Selama satu semester saya menduduki tempat saya menimba ilmu, banyak sekali perubahan cara pandang yang saya rasakan. Awalnya saya pikir periodesasi sastra hanya sekadar membahas sastra lama seperti gurindam, syair dan lainnya. Namun seiiring waktu berjalan, semakin lama mendaki ilmu yang ada di mata kuliah ini saya sadar, bahwa periodesasi sastra bukan hanya berfokus pada sastra lama, tapi banyak sekali yang dibahas.

Terutama saat mempelajari angkatan sastra Pujangga Baru dan Balai Pustaka, nyatanya waktu di sekolah menengah atas saya pernah bertemu dengan salah satu tokoh yang ada kaitannya dengan hal tersebut. Sebut saja, H.B. Jassin, tokoh yang berjasa dalam pendokumentasian karya sastra. Dalam salah satu halaman buku paket kelas XII, tertera bahwa Sutan Takdir Alisjahbana tertarik dengan H.B. Jassin untuk berkerja sebagai redaktur buku di Balai Pustaka  yang sebelumnya H.B. Jassin mendapat surat dari salah satu pendiri majalah Poedjangga Baroe. Hal inilah yang menjadi perubahan cara pandang saya, ternyata sejarah sastra bukan hanya sekadar mempelajari teori, tapi kita diajak berkeliling menjelajahi sejarah sastra Indonesia yang tentunya banyak sekali ilmu-ilmu yang sebelumnya belum pernah kita pelajari.

Jika ditelaah lebih dalam, Sejarah Sastra ini tentu memiliki relevansi dengan pembelajaran di sekolah. Pada saat menduduki bangku sekolah dasar, menengah pertama bahkan menengah atas banyak sekali kita bertemu dengan sastra lama, seperti Hikayat, Syair, Legenda, Pantun, Mitos, dan Gurindam, yang tentunya ada relevansinya dari mata kuliah ini dengan pembelajaran di sekolah. Tak hanya itu, Periodesasi sastra sebenarnya sudah pernah dipelajari, atau bisa dikatakan sekadar pengantar sebelum kita menduduki bangku perkuliahan, terutama di jurusan bahasa dan sastra Indonesia. H.B. Jassin, seorang tokoh yang berjasa dalam pendokumentasian karya sastra, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, bahwa beliau ada relevansinya dengan sejarah sastra yang saya pelajari ketika duduk di bangku perkuliahan.

Perkembangan sastra bisa dapat dirasakan dari periode awal adanya sastra, hingga saat ini. Sikap kritis tentu relevan dengan literasi dan periodesasi sastra saat ini. Karena periode sastra bukan hanya sekadar sebagai urutan sejarah, namun di dalamnya berisi kerangka untuk memahami nilai dan cara pandang yang ada dalam setiap zaman. Mulai dari angkatan Pra-Kemerdekaan hingga Sastra Kontemporer, kita dapat mempelajari sekaligus memahami nilai yang terbentuk dari setiap angkatan dan menguji kembali apakah nilai itu masih relevan, perlu dikritisi ataupun bisa ditafsirkan ulang. Yang awalnya saya berpikir bahwa sejarah sastra hanya mempelajari adanya sastra di Indonesia dan menghafal banyak teori, namun saat selami lebih dalam, ternyata sejarah sastra bukan hanya lahir dari periodesasi sastra, namun dari pemikiran para tokoh yang menciptakan bumbu keindahan tersendiri.

Penutup

Selama satu semester mempelajari mata kuliah sejarah sastra, membuka mata saya bahwa sejarah sastra bukan hanya sekadar hafalan ataupun suatu hal yang membosankan. Lewat mata kuliah ini, saya diajak untuk berkeliling dan menyelami sejarah sastra Indonesia dengan lebih menyenangkan. Mulai dari angkatan Pra-Kemerdekaan hingga Sastra Indonesia.

Pembelajaran yang dikemas dengan kolaborasi aktif dari siswa, melatih berpikir kritis menambah nilai pengetahuan yang melekat tersendiri bagi saya. Kedepannya saya berharap, sejarah sastra ini akan menjadi sahabat bagi setiap siswa ataupun mahasiswa, membuang stigma bahwa sejarah sastra hanya hafalan atau teori yang membosankan. Tetapi seakan menyelam bersama sejarah sastra Indonesia yang beragam dan banyak ilmu yang tersimpan di dalamnya.

“Sejarah Sastra Indonesia adalah laut; setiap kedalamannya menyimpan hikmah.”

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep