Mediapribumi.id, Internasional — Penutupan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional Universitas Annuqayah di Sekolah Indonesia Makkah (SIM) diwarnai suasana haru dan pesan kebangsaan yang mendalam. Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Rosidi Bahri, mengawali pidatonya dengan apresiasi tinggi kepada jajaran pimpinan SIM yang tak kenal lelah menjaga asa pendidikan anak bangsa di tanah suci.
“Menjaga eksistensi sekolah Indonesia di kota sebesar Makkah bukanlah tugas yang ringan. Kepercayaan yang diberikan kepada Universitas Annuqayah untuk hadir dan berkontribusi di sini adalah sebuah kebanggaan besar,” katanya.
Namun, titik paling emosional dalam sambutan tersebut justru bukan pada pemaparan program kerja, melainkan saat Dr. Rosidi menyinggung karya para siswa dalam lomba “Surat untuk Indonesia”.
Ia mengaku sangat tersentuh saat membaca untaian kata dari anak-anak yang lahir dan tumbuh besar di Arab Saudi tersebut. Meski sebagian besar dari mereka belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Tanah Air, tulisan mereka memancarkan optimisme, kecintaan, dan tekad kuat untuk mengabdi pada negeri yang selama ini hanya mereka kenal lewat cerita keluarga dan bangku sekolah.
“Hal yang paling menakjubkan bukanlah sekadar rasa rindu mereka, melainkan kepercayaan diri anak-anak ini menyebut Indonesia sebagai tanah airnya, meski raga mereka belum pernah menyentuhnya,” tuturnya haru.
Kepada para siswa, Dr. Rosidi menitipkan pesan monumental. Ia menegaskan bahwa wujud bakti kepada ibu pertiwi tidak mewajibkan seseorang untuk menetap di Indonesia.
“Selama kalian mampu menjaga martabat bangsa dan tidak pernah minder dengan identitas keindonesiaan kalian, di mana pun kalian berada, kalian adalah putra-putri terbaik negeri ini,” tegasnya.
Sebagai penegas, ia mengajak para siswa meresapi jejak gemilang para ulama Nusantara pada masa lampau. Tokoh-tokoh besar seperti Syaikh Nawawi al-Bantani dan Syaikh Yasin al-Fadani dari Padang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Makkah dan Madinah. Mereka berhasil mendunia berkat kedalaman ilmunya, tanpa sedikit pun menanggalkan akar budayanya.
“Mereka menaklukkan dunia dengan karya, namun tetap bangga menyematkan nama daerah kelahirannya di belakang nama mereka. Inilah teladan abadi yang sudah ada sejak berabad-abad lalu,” pesan Dr. Rosidi.
Rangkaian acara penutupan ini diparipurnakan dengan penyerahan apresiasi kepada lima siswa penulis surat terbaik. Selain itu, tim KKN Universitas Annuqayah juga menyerahkan donasi buku secara simbolis kepada Kepala SIM guna memperkaya referensi literasi perpustakaan sekolah.
Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!














;