Mediapribumi.id, Sumenep — Karya film produksi siswa SMKN 1 Sumenep menunjukkan potensi besar generasi muda di bidang industri kreatif. Hal ini terlihat dalam kegiatan Screening Film yang mendapat dukungan penuh dari orang tua, tenaga pendidik, serta sejumlah pihak yang hadir langsung.
Kepala SMKN 1 Sumenep, Sucipto, mengapresiasi keterlibatan orang tua yang dinilai menjadi faktor penting dalam mendorong semangat dan kreativitas siswa.
“Produksi film memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam aspek teknis seperti pengolahan dan konversi format yang umumnya membutuhkan biaya tidak sedikit. Namun, siswa mampu mengatasinya melalui praktik langsung,” ujarnya, Rabu (01/04/2026).
Menurutnya, pencapaian siswa dalam memproduksi film merupakan hal luar biasa, mengingat proses pembelajaran dilakukan dalam waktu singkat dengan pendampingan guru.

Ia berharap kolaborasi yang terjalin dapat berlanjut dan menjadi awal pengembangan industri kreatif di lingkungan sekolah. Ke depan, karya film siswa diharapkan bisa dipublikasikan melalui platform digital sebagai portofolio untuk meniti karier di dunia perfilman.
“Dengan dukungan berkelanjutan, kami optimistis karya-karya siswa akan semakin berkembang dan mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional,” tambahnya.
Apresiasi juga datang dari kalangan profesional. Sinematografer Muhammad Abdurrahman Agusto menilai film yang dihasilkan pelajar Madura memiliki potensi besar, terutama dalam mengangkat nilai-nilai lokal.
“Saya senang karena ini dikerjakan oleh anak-anak SMK yang diharapkan setelah lulus siap bekerja, walaupun tetap harus terus belajar,” ujarnya.
Ia mengapresiasi keberanian siswa dalam mengangkat unsur lokalitas, baik dari segi tema maupun penggunaan bahasa daerah. Menurutnya, tren film dengan dialog bahasa daerah justru semakin diminati dan berpeluang diterima secara luas.
“Kalau ini terus dikembangkan dengan cerita yang lebih lokal, saya yakin bisa digaungkan ke seluruh Indonesia, bahkan seperti film daerah lain yang bisa masuk bioskop,” katanya.
Abdurrahman menambahkan, potensi lokal di Madura masih sangat luas untuk dieksplorasi, mulai dari desa wisata keris hingga batik. Tema-tema tersebut bisa dikembangkan bukan hanya sebagai karya film, tetapi juga sebagai media promosi daerah.
Ia optimistis produksi film berdurasi panjang dari siswa Madura dapat diwujudkan, apalagi tren genre horor masih diminati dan bisa menjadi pintu masuk bagi karya baru dari daerah.
Sebagai pesan kepada generasi muda, ia mendorong agar pelaku kreatif tidak membatasi diri.
“Industri film Indonesia saat ini berkembang cukup baik, terutama film independen. Jadi jangan jadi katak dalam tempurung, perbanyak relasi dan pengalaman,” tutupnya.













