Mediapribumi.id, Sumenep — Azan Subuh berkumandang menandakan santri Pondok Pesantren At Taufiqiyah, Aengbaja Raja, Bluto, Sumenep sudah beranjak dari asrama untuk menunaikan kewajiban salat secara berjemaah.
Tak menunggu lama, sosok pengasuh datang untuk mengimami para santri dan memimpin zikir setelah salat serta dilanjutkan mengajar Kitab Tafsir Jalalain di Masjid.
KH. Imam Hasyim, sosok pengasuh Pondok Pesantren At Taufiqiyah di tengah kesibukannya menjadi pejabat pemerintah yakni Wakil Bupati (Wabup) Sumenep secara istikamah memimpin sekaligus membimbing para santri.
Pesantren dan Pemerintah
Komitmennya, sebagai tokoh kiai sekaligus sebagai pejabat pemerintah adalah menghibahkan dirinya untuk mewariskan pengetahuan sekaligus memberikan pelayanan publik.
Itu semua, diniatkan sebagai jalan ibadah dan dedikasi pengabdian kepada masyarakat, negara, dan agama sehingga tidak merasakan penat ataupun jenuh.
“Meskipun saat ini menjadi Wabup (Sumenep) kami tidak meninggalkan pesantren. Jabatan itu amanah yang nanti akan dipertanggungjawbkan di hadapan Allah,” ujar KH Imam Hasyim saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (10/08/2026).
Tak bisa dipungkiri, kewajiban sebagai pejabat akan memengaruhi intensitasnya berada di pesantren untuk mengasuh para santri. Namun, hal itu tidak mengurangi sistem pendidikan yang sudah berjalan sejak lama di pesantren.
Kedua putranya yang masih muda menggantikan posisinya dalam mengasuh dan mendidik santri di Pondok Pesantren At Taufiqiyah.
Jadwalnya di pesantren mulai berkurang seiring kewajibannya menjalankan tugas pemerintahan, namun, setelah selesai tugas ia tak pernah lupa pulang menunaikan kewajiban di pesantren.
Dalam satu minggu, ia berada di pesantren selama tiga hari, yakni Hari Jumat, Sabtu, dan Senin, sisanya ia menjalankan tugas di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep.
“Senin pagi saya masih ngajar, setelah selesai kembali lagi ke Rumah Dinas (Rumdis),” imbuhnya.
Sejak tahun 1987 KH Imam Hasyim menjadi pengasuh di pondok pesantren yang saat ini memilik sekitar 1600 santri itu, mengajar kitab klasik (kitab kuning) sudah menjadi bagian tak terpisahkan dan sudah diklaim sebagai hobi.
Kendati saat ini hanya berkesempatan mengajar tiga hari dengan Kitab Tafsir Jalalain, sebelum menjadi Wabup ia mengajar banyak kitab seperti Alfiyah, fiqh, dan sebagainya.
Lebih jauh, kegiatan mengajar kitab para santri itu sudah ia lakoni sejak masih nyantri di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, salah satu tempat dirinya ditempa dan dibentuk menjadi insan seperti saat ini.
Bahkan, ketika berhalangan karena kegiatan lain atau sedang sakit, ia merasa berhutang karena meninggalkan mengajar yang sudah menjadi hobinya itu.
“Kalau ada halangan yang membuat saya tidak bisa mengajar, saya akan mengganti (qada) di lain waktu,” tuturnya.
Bersama Masyarakat
Wabup Imam Hasyim melanjutkan, selain mengabdikan diri di pesantren dan pemerintahan, dia juga selalu berupaya untuk mendedikasikan dirinya kepada masyarakat salah satunya dengan menghadiri undangan hajatan maupun memberikan ceramah.
Berbagai kegiatan kemasyarakatan ketika dirinya diundang akan selalu berupaya untuk hadir manakala tidak memiliki kesibukan yang lain.
Tak hanya memilih hajatan besar, hajatan kecil sekalipun tetap dia hadiri, entah yang mengundang orang berpangkat tinggi atau orang tanpa pangkat sekalipun, entah diundang oleh orang kaya atau orang miskin, semuanya dia datangi tanpa pamrih.
Prinsip ini, kanjut KH Imam, diajarkan oleh orang tuanya dulu yakni KH Hasyim Ali saat hendak mau berangkat nyantri. Pesannya saat itu “ketika sudah pulang ke masyarakat, jika diundang baik oleh orang besar (berpangkat atau kaya) ataupun orang kecil (tak berpangkat atau miskin) tetap hadiri”.
“Meskipun kegiatan kecil salama tidak berbenturan dengan tugas saya akan tetap datang,” tandasnya.
Bahkan, sebelum menjabat sebagai Wabup Sumenep, ia juga sering diundang untuk memberikan ceramah ke berbagai daerah baik di Madura maupun di luar Madura seperti Banyuwangi, Bali, Jakarta, hingga Kalimantan.
“Karena saat ini tugas dan kewajiban bertambah, jadi dikurangi mengambil jadwal berceramah,” tukasnya.
Bersama Keluarga
Satu hal yang tak bisa dilupakan dari semua padatnya tugas dan kewajiban sebagai pengasuh dan Wabup Sumenep, yakni keluarga. Kesibukannya tetap tak melupakan kewajibannya untuk membuat keluarga bahagia dengan kehadiran dirinya sebagai sosok ayah atau suami di rumah.
Setelah selesai menyelesaikan tugas di luar rumah, dia pulang untuk berkumpul bersama keluarga selayaknya seorang pria yang menjadi kepala rumah tangga.
“Bahkan, sesekali kalau sedang tidak ada kesibukan, kami sekeluarga menyempatkan diri untuk berlibur ke tempat-tempat wisata,” pungkasnya.
Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!













