Mediapribumi.id, Jakarta — PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) melalui anak usahanya, Medco E&P Natuna Ltd (Medco E&P), resmi meningkatkan kapasitas produksi minyak dan gas bumi (migas) di Lapangan Terubuk, Blok South Natuna Sea Block B, Kepulauan Riau. Tambahan produksi tersebut berasal dari sumur Well Head Platform M (WHP-M), yang menghasilkan sekitar 3.000 barel minyak per hari (bopd) dan 40 juta kaki kubik gas per hari (mmscfd).
Sebelumnya, produksi dari sumur WHP-L telah dimulai lebih dulu pada Juni 2025 dengan kapasitas 3.600 bopd dan 20 mmscfd. Dengan beroperasinya WHP-M, total produksi migas dari Lapangan Terubuk kini mencapai 6.600 bopd dan 60 mmscfd, memperkuat kontribusi blok ini terhadap pasokan energi nasional.
Direktur Utama Medco E&P, Ronald Gunawan, mengungkapkan bahwa produksi perdana dari WHP-M dimulai pada 25 Juli 2025, lebih cepat tiga bulan dari target awal Oktober. Ia menyampaikan apresiasi kepada SKK Migas dan Kementerian ESDM atas dukungan yang diberikan dalam percepatan proyek. “Kami bersyukur proyek ini bisa berjalan baik dan bahkan lebih cepat dari rencana awal,” ujarnya saat pengumuman resmi di Kantor Medco, Jakarta, Selasa (28/7/2025).
Penambahan produksi dari WHP-M merupakan bagian dari strategi bersama antara Medco dan SKK Migas untuk memenuhi target nasional sektor hulu migas. Deputi Eksploitasi SKK Migas, Taufan Marhaendrajana, menyebut beroperasinya WHP-M menandai selesainya keseluruhan proyek pengembangan Lapangan Terubuk. Ia juga berharap capaian Medco E&P menjadi acuan bagi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) lain dalam mengembangkan lapangan marginal lepas pantai secara efisien dan inovatif.
“Kinerja seperti ini sangat kami harapkan. Setiap proyek hulu migas idealnya berjalan dengan prinsip otobos: on time, on budget, on scope, dan on governance, serta menjunjung tinggi kualitas dan keselamatan kerja,” ujar Taufan.
Sepanjang pelaksanaan proyek, WHP-L dan WHP-M tercatat telah menyumbang lebih dari 750.000 jam kerja aman tanpa kecelakaan kerja. Proyek ini juga berhasil menyelesaikan fabrikasi topside WHP-M dalam waktu enam bulan, lebih cepat satu bulan dibandingkan WHP-L.
Seluruh tahapan proyek ini, mulai dari perancangan hingga konstruksi, dikerjakan sepenuhnya oleh tenaga kerja Indonesia.
Selain itu, WHP-M mengusung prinsip keberlanjutan dengan penggunaan energi surya (solar PV) sebagai sumber energi pendukung. Teknologi Digital Microwave Radio dan Integrated Control & Safety System juga diterapkan “Guna memungkinkan pengawasan dan kendali operasi secara jarak jauh, sekaligus meningkatkan efisiensi dan keandalan produksi migas,” tukasnya.













