Mediapribumi.id, Sumenep — Seorang anak yang menjadi korban dugaan tindak asusila oleh oknum guru berinisial MR di Pulau Kangean, Kecamatan Arjasa, belum mendapat pendampingan psikolog. Penyebabnya, tidak ada psikolog yang berpraktik di pulau tersebut. Korban pun harus menempuh perjalanan ke daratan Sumenep, bahkan ke Surabaya, untuk menjalani pemeriksaan.
Penasihat hukum korban, Ach Syaifur Rizal, mengatakan keluarga bertolak ke Sumenep pada Rabu (07/10/2026) malam untuk memenuhi panggilan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Sumenep. Pertemuan dengan penyidik dijadwalkan Kamis (08/10/2026), disusul pemeriksaan di RS Bhayangkara pada Jumat (09/10/2026).
“Belum mendapat pendampingan psikolog karena di Kangean memang tidak ada psikolog,” terangnya.
Menurut Syaifur, kondisi psikis korban masih rapuh. Korban disebut kerap teringat peristiwa yang dialaminya dan takut bertemu MR, meski terduga pelaku sudah diamankan. Situasi bertambah berat karena korban sempat dirundung teman-temannya di sekolah, sekitar sepekan setelah kasus ini ramai diberitakan. Sejak itu korban enggan kembali bersekolah.
Syaifur menyarankan korban tidak masuk sekolah untuk sementara demi mencegah tekanan mental yang lebih dalam. Pihak keluarga, katanya, telah menyampaikan hal itu secara lisan kepada kepala sekolah.
“Soal kelanjutan pendidikan korban akan dibahas setelah proses pendampingan di Sumenep selesai,” katanya.
Kasat Reskrim Polresta Sumenep Kompol Bambang Tri Sutrisno menjelaskan, pembawaan korban ke RS Bhayangkara Surabaya dilakukan untuk melengkapi berkas penyidikan.
“Pemeriksaan psikologis tidak bisa dilakukan sembarang psikolog. Jadwalnya pun ditentukan pihak rumah sakit,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala UPTD PPA Dinsos P3A Sumenep Diana Agus Sulistyowati menyebut pihaknya belum bertemu langsung dengan korban dan belum melakukan asesmen, sehingga belum dapat memberi pendampingan. Asesmen akan dilakukan setelah pemeriksaan psikologis oleh kepolisian rampung.
“Setelahnya, korban baru akan didampingi psikolog,” tuturnya.
Lebih lanjut, Kepala Dinas Pendidikan Sumenep Mohammad Iksan menyatakan kepala sekolah dan guru Bimbingan Konseling (BK) dijadwalkan menemui korban dan orang tuanya pada Kamis (08/10/2026) untuk membujuknya kembali belajar. Ia juga menyebut pihak sekolah telah meminta para siswa tidak merundung korban.
“Dalam hal ini sangat penting dukungan orang tua, keluarga, dan lingkungan sekitar dalam menumbuhkan lagi semangat belajar korban agar masa depannya tetap terjaga,” tandasnya.
Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!













