BeritaPeristiwa

Kemarau Panjang di Batuputih Sumenep, Warga Dusun Marang Beli Air hingga Rp10 Ribu per Jam

Avatar
×

Kemarau Panjang di Batuputih Sumenep, Warga Dusun Marang Beli Air hingga Rp10 Ribu per Jam

Sebarkan artikel ini
Kemarau Panjang di Batuputih, Warga Dusun Marang Beli Air hingga Rp10 Ribu per Jam
Niya (60) Saat Berada di Rumahnya.

Mediapribumi.id, Sumenep — Kemarau panjang kembali menekan kehidupan warga Dusun Marang, Desa Larangan Barma, Kecamatan Batuputih, Sumenep. Sejak sekitar Juni 2026, air bersih menjadi barang sulit di dusun itu, memaksa warga membeli air dari desa lain dan mengatur pemakaian seketat mungkin.

Salah satu warga, Niya (60) mengatakan keluarganya harus membeli air ke Desa Batuputih Laok, desa tetangga, sejak kekeringan melanda. Biayanya Rp10 ribu per jam bila memakai pompa submersible, dan Rp6 ribu per jam jika menggunakan jet pump.

“Kami pernah membeli air untuk mengisi sumur sendiri selama empat jam dengan submersible. Debit airnya lebih besar dan alirannya lebih deras dibanding jet pump,” kata Niya, Rabu (30/09/2026).

Menurut dia, wilayah terdampak kekeringan kian meluas. Warga yang membeli air ke desa sebelah pun bertambah, sehingga antrean makin panjang.

Dalam beberapa pekan terakhir, bantuan air bersih datang bergantian dari Pemkab Sumenep, Polresta Sumenep, dan Kodim 0827/Sumenep. Di dusun itu, air bantuan dikumpulkan di tandon besar milik kepala dusun. Saat stok menipis, warga mengambil sendiri memakai galon atau jeriken.

Keterbatasan air memaksa Niya mengubah kebiasaan hidup. Air beli maupun bantuan harus cukup untuk tiga hingga lima hari. Ia kini kadang hanya mandi sekali sehari. Untuk mencuci, anaknya membawa pakaian ke rumah istrinya di Desa Manding Timur, dan sepulangnya sering membawa air bersih dari sana.

Air bantuan juga tidak seluruhnya untuk kebutuhan rumah tangga. Niya memelihara seekor sapi yang butuh minum setiap hari. “Untuk keluarga, konsumsinya kurang dari satu galon per hari. Sapi justru lebih banyak, kadang sampai satu setengah galon,” ujarnya.

Dampak kemarau juga terasa pada ekonomi keluarga. Sebagai keluarga petani, mereka tidak bisa bercocok tanam dan menjual hasil panen. Pengeluaran justru bertambah.

“Kalau sudah kering begini, penghasilan tidak naik, malah pengeluaran bertambah. Kadang saya ditegur anak karena terlalu memikirkan pemasukan dan pengeluaran yang tidak seimbang,” tutur Niya.

Ia menyebut persoalan ini bukan hal baru. Sejak ia kecil, dusunnya sudah akrab dengan kekeringan. Ia ingat mendiang orang tuanya dulu harus mencari air hingga puluhan kilometer ke desa-desa terdekat.

“Di sini setiap tahun langganan kering dan kekurangan air. Sumur bor pun tetap kering kalau sudah puncak kemarau,” katanya.

Niya berharap bantuan air bersih terus mengalir hingga hujan turun. Saat musim hujan, ia bisa menanam jagung dan kedelai, lalu menjual hasilnya untuk menyambung hidup.

“Saya selalu berharap dan berdoa agar hujan segera datang. Kemarau dan kekeringan ini sangat memengaruhi ekonomi keluarga,” ucapnya.

Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!

Jadikan Sumber Pilihan
Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *