Mediapribumi.id, Malang — Tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggandeng peternak sapi perah dan guru IPA-Biologi di Kabupaten Malang untuk mengolah susu sisa menjadi produk pangan bernilai jual sekaligus media pembelajaran bioteknologi. Program ini menyasar wilayah Pujon, salah satu sentra susu sapi perah terbesar di Jawa Timur, tempat sebagian susu segar kerap tidak terserap koperasi karena volumenya belum mencapai batas minimal setor.
Berawal dari Susu yang Nyaris Terbuang
Ketua tim pengabdian, Prof. Yuni Pantiwati, menyampaikan bahwa susu yang selama ini terbuang percuma sesungguhnya masih bisa diselamatkan menjadi produk bernilai ekonomi.
“Susu yang sebelumnya menjadi sisa dapat diolah menjadi berbagai produk pangan. Selain meningkatkan nilai ekonomi bagi peternak, kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai sumber belajar bioteknologi bagi siswa,” katanya, Rabu (15/07/2026).
Program yang berjalan lewat skema Pemberdayaan Wilayah ini menurutnya lahir dari cara pandang berbeda: persoalan susu sisa bukan sekadar masalah produksi, melainkan peluang inovasi berbasis potensi lokal yang mempertemukan dunia peternakan dengan dunia pendidikan.

Praktik Mengolah Yogurt dan Butter
Pendampingan berjalan dua jalur sekaligus, kepada kelompok peternak sapi perah dan kepada guru-guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA dan Biologi Kabupaten Malang.
Setelah dibekali materi bioteknologi pengolahan susu oleh dosen Teknologi Pangan UMM, Sri Winarsih, S.TP., M.P., peserta lalu praktik langsung membuat yogurt dan butter bersama tenaga pendamping dari Laboratorium Teknologi Pangan UMM mulai dari pemilihan bahan, proses olah, hingga pengemasan.
Khusus di Pujon, peternak juga dibekali pemahaman soal kebersihan produksi, konsistensi rasa, kemasan yang menarik, hingga strategi pemasaran produk olahan.
Selain berlatih produksi, para guru diarahkan menganalisis kelayakan potensi lokal tersebut sebagai sumber belajar bioteknologi jenjang SMP dan SMA, melalui pendampingan daring via Zoom yang dilanjutkan koordinasi lewat WhatsApp. Proses ini didampingi Prof. Yuni bersama Dr. Erna Retno Rahajeng, M.M., dan Prof. Lud Waluyo, M.Kes.
Prof. Yuni menegaskan potensi lokal tidak bisa langsung dipakai sebagai bahan ajar tanpa kajian lebih dulu.
“Sebelum digunakan dalam pembelajaran, potensi lokal perlu dianalisis untuk memastikan kesesuaiannya dengan tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, ketersediaan sumber daya, kemudahan akses, serta keterkaitannya dengan indikator dan materi pembelajaran,” jelasnya.
Lima Varian Yogurt Berbahan Alami
Praktik lapangan menghasilkan yogurt dengan lima varian rasa alami: original, kelor (Moringa oleifera), anggur hitam (Vitis vinifera), buah naga merah (Hylocereus polyrhizus), dan bunga telang (Clitoria ternatea), ditambah butter original yang dikemas layak jual.
Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!













