Mediapribumi.id, Sumenep — Harga sejumlah komoditas pangan yang merangkak naik khususnya menjelang Hari Raya Iduladha beberapa waktu lalu mendorong Kabupaten Sumenep mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,16 persen pada Mei 2026. Angka ini menandai pembalikan tren setelah pada bulan sebelumnya daerah ini justru mengalami deflasi sebesar 0,40 persen.
Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep, Handoyo Wijoyo. Menurutnya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penopang utama inflasi bulan ini dengan kontribusi sebesar 0,16 persen, disusul kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran yang menyumbang andil 0,10 persen.
Dari sisi komoditas, cabai merah menjadi yang paling signifikan dengan lonjakan harga mencapai 45,58 persen dibanding bulan April. Cabai rawit menyusul dengan kenaikan 23,64 persen, bawang merah naik 16,53 persen, dan minyak goreng tercatat meningkat 5,63 persen.
“Komoditas utama penyumbang inflasi bulanan adalah cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan minyak goreng,” ujar Handoyo, Rabu (10/06/2026).
Ia menjelaskan, lonjakan permintaan masyarakat menjelang hari besar keagamaan menjadi faktor yang lazim mendorong kenaikan harga pangan. Selain komoditas tersebut, sejumlah produk kuliner siap saji seperti minuman es, nasi dengan lauk, dan bakso turut memberikan tekanan terhadap inflasi.
Di sisi lain, inflasi Mei berhasil diredam oleh turunnya harga emas perhiasan yang mengalami deflasi 4,42 persen, dengan andil menahan laju inflasi hingga 0,23 persen.
“Kalau tidak ada penurunan harga emas perhiasan, inflasi bulan Mei kemungkinan akan lebih tinggi,” kata Handoyo.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, cecara tahunan atau year-on-year (y-on-y), tekanan inflasi di Kabupaten Sumenep pada Mei 2026 mencapai 5,12 persen, jauh melampaui angka pada periode yang sama tahun lalu sebesar 1,61 persen, serta meningkat dari posisi April 2026 yang berada di level 4,13 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali mendominasi sebagai penyumbang terbesar dengan andil 2,62 persen. Beras menjadi komoditas dengan kontribusi tertinggi yakni 0,36 persen, diikuti cabai rawit 0,25 persen, dan sigaret kretek mesin 0,24 persen.
Emas perhiasan yang sebelumnya menahan inflasi bulanan justru tercatat sebagai salah satu pendorong inflasi tahunan, dengan andil sebesar 1,45 persen dalam kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Sementara komoditas kuliner seperti nasi dengan lauk, minuman es, dan bakso siap santap turut memperkuat tekanan dari kelompok restoran.













