Cerpen

Hybrid

Avatar
179
×

Hybrid

Sebarkan artikel ini
Hybrid
Ilustrasi oleh: Open AI

Mediapribumi.idDunia metafora, kenyataan hanyalah stimulasi akal yang beprasangka. Dan aku hidup di dalamnya di antara serpihan ilusi optik disebut peradaban, ia terus maju dan berkembang.

Nodus, kota masa depan, langit-langit cerah diterangi neon, dan kendaraan tanpa awak berterbangan, masih ada matahari di sini, sesekali di waktu pagi ia tampak mengintip dari balik punggung bangunan kota, sebelum benar-benar menjulang dan memaparkan sinarnya. Pun mendung, ia tetap hujan meski seringkali bersifat buatan, beberapa kejadian terkadang tidak lagi alami—disesuaikan dengan kebutuhan manusia.

Di Nodus, kota masa depan. Segala aktifitas bisa diakses di depan layar, dan pertemuan-pertemuan kecil seringkali dilakukan secara virtual. Pertemuan yang tak jauh berebeda dengan dunia nyata, tak butuh banyak usaha, cukup kuota, dan manusia berlomba-lomba menjadi yang terbaharukan, untuk dipasang di bio profil yang menempel di atas kepala mereka.

Beta, sosok pemuda pemberontak, kedua orang tuanya dianggap berkhianat kepada negara, karena berusaha menghentikan percobaan yang dilakukan oleh pemerintah, melakukan evolusi manusia, mereka dipenjara dalam kotak virtual karena usaha itu.

Dalam dirinya, Beta memiliki kemampuan membaca data. Mengerti bahasa komputer; bit, box, codex—algoritma. Mengolah kode-kode tersebut seperti meracik adonan, ia faham betul bagaimana algoritma terbentuk dan dapat berubah seperti udara, elastis.

Suatu wakut ia berselancar dalam maya. Merangkai kode, mencipta perangkat (sofwtare). Dengan kebencian yang ada. Ia berusaha membebaskan kedua orang tuanya dari hukuman dunia virtual—penjara pemerintah.

Dalam satu malam pergulatannya dengan Pyton dan Linux menghasilkan entitas baru yang mengerikan. Perangkat lunak yang mampu merupa apa saja, terlebih ia membuatnya menjadi entitas yang memiliki kemampuan untuk berkamuflase dan berkembang. setelah selesai dengan proyeksinya Beta merayakan keberhasilannya, ia memberi nama entitas tersebut  “Trojan“.

“Setelah ini akan kupastikan kebenaran terungkap, sejarah akan berbalik arah, dan para penguasa itu harus bertanggung jawab  atas perbuatannya” ujar Beta dengan secangkir vodka yang membasahi tenggorokannya,—satu dua sloki habis.

Trojan menggila dan lepas kendali. Dalam dunia dunia virtual, sistem diporakporandakan, kota-kota virtual hangus, pembatas diberangus. Trojan begitu bernafsu  untuk menguasai dua dunia—dunia virtual dan nyata. Keinginan itu lahir dari ambisi beta yang tidak menuliskan enkripsi pembatas dan membiarkannya terus berkembang.

Trojan membuat portal. Pintu masuk antar dua dunia yang berbentuk bulat, dengan segumpal cahaya kotak-kotak berwarna biru keemasan, cahaya itu berputar, spiral. Dan tujuannya untuk mencipta ruang Hybrid tersisa satu langkah. Ia membutuhkan energi yang tidak bisa didapat di dunia virtual. Geotermal. Dengan adanya energi tersebut portal akan selalu terbuka dan tak terbatas waktu, dengan itu pula Trojan dapat menguasai dua dunia untuk disatukan menjadi sebuah ruang—Hybrid.

Setelah dunia digital ia luluhlantahkan (rekonstruksi ulang data). Trojan berusaha menerobos dunia nyata. Dunia nyata gempar, kehadiran portal di tengah perkotaan membuat manusia-manusia di kota Nodus bertanya-tanya, dan kehadirannya yang serta merta menimbulkan goncangan psikologis—ketakutan. Portal itu memenuhi langit-langit kota.

Beta tersadar bahwa enttitas—Trojan, yang ia cipta lepas kendali dan menyebabkan kiamat digital, dan Trojan sedang berusaha merangsek kedunia nyata. Berusaha menggabungkan dua dunia. Ada perasaan bersalah dalam dirinya, dan ia tergerak untuk menyelamatkan dunianya agar tidak tertimpa dunia virtual.

“Perangkat lunak—entitas, Trojan virus mematikan. Hanya entitas yang sama yang bisa melawannya” pikirnya. Sepersekkian detik ia termenung dan mengingat, “Meta !!!” ucapnya dalam kepala. Entitas dalam dunia virtual yang telah lama ia rancang bersama Etha, kekasihnya. Entitas  itu ia kurung dalam box dan dikunci menggunakan codex.

Meta adalah hasil dari penelitian yang ia rancang dengan kekasihnya, sebelum penelitian itu dihentikan karena sebuah tragedi malam itu,—Meta entitas virtual, menyebabkan laboratorium meledak. Dan Etha menghilang tanpa jejak, malam itu juga.

Dunia, Kota Nodus terdisrupsi, bangunan yang berdiri tegak menjadi potongan hologram kotak-kotak, dan manusia-manusia yang terkontaminasi cahaya virtual, mulai bergerak aneh, kehilangan kesadarannya. Mereka berjajar rapi di bawah portal. Dari dalam kamar Beta memilin enkripsi membuka codex, melepas Meta dari dalam box ke dunia virtual, dengan gemulai tangan-tangan Beta mencipta prompt—kata perintah “Activated“. Meta bergerak menyusup kedalam dunia virtual.

Pertarungan sengit terjadi; bit data melesap serupa cahaya, menghujam inti Trojan, cahaya merah yang terpancar dari kata perintah “Attack”. Trojan hanya tersenyum meringis “Object Locked, Ready to Fire” serupa api virus-virus dari tubuh Trojan melahap esensi Meta. “Mission Failed, Prepare For The Process Of Mass Destruction”.

Sebelum Meta benar-benar meledakkan diri, secepat kilat Beta berlari menuju dunia virtual, berusaha menghentikan Meta, “Sepersekian waktu aku melihat dirimu Etha, dalam dunia virtual—esensi Meta yang merupa wajahmu“ keluh itu seirama pelukan yang menghentikan proses penghancuran massal secara tiba-tiba.

Memeluknya erat seperti memeluk manusia, bukan entitas lain yang menyerupai. Dengan segala usaha, Beta menyelamatkan serpihan esensi Meta. Membawanya kedalam kotak yang dienkrispi. Di dalam kotak, Beta berusaha memperbaiki Meta dengan beberapa potongan sisa yang bisa ia selamatkan, tetapi beberapa bagian tak lagi kembang kempis, Meta sekarat.

“Etha—Meta. Aku merindukanmu, meski dalam bentuk lain aku tetap mengenalmu, utuh. Tak ada jalan lain bagiku untuk menyelamatkanmu, kita akan menyatu “selepas tangis yang tak basah, ia merelakan kesadarannya lepas dari tubuhnya, menjadi vegetative. Sebelum itu ia membuat prompt migrasi tubuh, Beta yang tak lagi berwujud manusia meminta sistem untuk memindahkan tubuhnya ke dunia nyata, transformasi selesai. Beta menyatu dengan Etha—Meta, membentuk eksitensi lain yang lebih gagah dengan corak warna kebiruan, dan tubuh Beta di transfer ke dunia nyata.

Sisa kesadaran Etha—Meta mengirim kode:

“Tahukah engkau, konsekuensi dari menempatkan kesadaran pada entitas lain dalam dunia virtual ?“ tanya Meta

“Ya aku tau, dan aku memilih terpenjara dalam satu entitas, bersamamu. tubuh-tubuh dalam dunia nyata itu fana, dan ada masanya, sedang di sini denganmu, meski tanpa bentuk aku abadi—cinta kita. Aku tahu tubuhmu hangus dilalap api dan kesadaranmu menyatu kedalam dunia virtual, aku tau dan merasakan keberadaanmu dalam satu kali pandang, bahwa kesadaranmu, Etha, mewujud ciptaan kita, Meta. Dan pengorbanan ini tidak hanya untukku tetapi untuk ummat manusia di kota Nodus, aku harus menghentikan Trojan “jawabnya panjang. Obrolan itu seperti perseteruan logika dan hati, dua esensi dalam satu entitas, mereka saling menguatkan.

Membuka enkripsi, mereka keluar dari kotak persembunyiannya, dan Trojan menghantamnya garang “Object Detected, Ready To Devour”. Kekuatan Trojan yang semakin berkembang membentuk entitas raksasa dan mereka—Meta ditelan menuju ruang pembersihan Trojan. Dari dalam, Meta merusak sistem pertahanan, meretas sistem dan mengubah algoritma, pertarungan yang tak berwujud fisik tetapi begitu mendebarkan, ada banyak kata saling baku hantam, memililin kalimat-kalimat pasif dengan kata perintah pertarungan itu merupa cahaya dengan kata-kata sebagai senjatanya. Dengan segala usaha dan kesadaran dua entitas yang tak lagi berwujud mereka pada akhirnya mampu menembus sistem pertahanan Trojan.

“Tak ada cara untuk menghapusnya, entitas ini terlalu besar untuk dihilangkan, cara terbaiknya membiarkannya tetap ada dan mengubahnya menjadi entitas lain—ruang kosmik. Tetapi kita tidak akan bisa keluar dari sini, bergentayangan dalam ruang hampa virtual, menjadi hantu-hantu kosmik“ ujar Meta kepada dirinya—kesadaran beta.

“Tak apa, sudah sejauh ini tidak ada lagi jalan mundur, terlebih bersamamu aku sudah merasa bahagia, dan kita akan di sini selamanya, bersama.—dalam ruang kosmik. Kalimat persutujuan itu tak butuh jawaban, dengan satu hentakan kata perintah Trojan kehilangan kesadaran dan menghilang dari dunia virtual, dan sissa entitas itu membentuk kubah serupa ruang. Mereka hilang kesadaran (reset)—Meta terkurung di dalamnya.

Suatu waktu di antara kesadaran Beta, Etha berbisik “Sadarlah, tetaplah hidup menjaga agar portal tidak terbuka dari luar, dan aku di dalam, beberapa waktu lalu telah aku siapkan prompt transmigrasi dengan sisa kesadaranku, agar engkau bisa kembali kedunia nyata”. Bisiknya halus.

Tubuh Beta berguncang, ia masih utuh dan nyata. Tak ada sisa pertarungan apalagi portal. ia terbangun, dari bawah ranjangnya dengan sebotol vodka di tangan kirinya. Dan Trojan berkedip di layar utama komputernya.

“Well Come To The Hell ”.

Penulis: Syauqi Robbil Afief, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas PGRI (UPI) Sumenep.

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep