Berita

Brida Sumenep Ungkap Tiga Penyebab Utama Banjir Perkotaan dan Rancang Strategi Penanganan Menyeluruh

Avatar
285
×

Brida Sumenep Ungkap Tiga Penyebab Utama Banjir Perkotaan dan Rancang Strategi Penanganan Menyeluruh

Sebarkan artikel ini
Brida Sumenep Ungkap Tiga Penyebab Utama Banjir Perkotaan dan Rancang Strategi Penanganan Menyeluruh
Kepala Brida Sumenep, Benny Irawan

Mediapribumi.id, Sumenep — Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Sumenep mengungkapkan tiga faktor penyebab utama banjir yang kerap melanda kawasan perkotaan. Temuan ini berdasarkan hasil penelitian sementara yang dilakukan bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) serta sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) setempat.

Kepala Brida Sumenep, Benny Irawan, menjelaskan bahwa banjir di “Kota Keris” ini merupakan akibat dari ketidakseimbangan antara dinamika alam, aktivitas manusia, dan tata kelola ruang kota.

“Seperti di daerah Pajagalan, Bangselok, dan Karangduak yang memperlihatkan genangan berulang. Hal itu akibat lemahnya adaptasi sistem perkotaan terhadap tekanan hidrometeorologis dan perubahan tata guna lahan,” terang Benny.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR), Bappeda, BPBD, BKAD, dan kelurahan, Benny memaparkan tiga penyebab spesifik:

1. Klimatologis: Curah hujan tinggi dengan durasi panjang, yang diperparah oleh fenomena pasang laut dan elevasi permukaan tanah yang rendah di beberapa titik.

2. Antropogenik (Faktor Manusia): Masalah sampah, sedimentasi, pembangunan yang tidak memperhatikan peil banjir (garis tinggi banjir), dan lemahnya pengawasan di sepadan sungai.

3. Spasial: Topografi yang cekung dan sistem drainase yang tidak terhubung menyebabkan aliran air tertahan di beberapa lokasi. Sementara itu, pemeliharaan rutin seperti pengerukan saluran terbatas akibat kendala anggaran.

Untuk menangani masalah multidimensi ini, Brida merancang strategi dua jalur. Pertama adalah pendekatan struktural, yang meliputi normalisasi dan pelebaran saluran, redesign box culvert, pembangunan kolam retensi, serta memanfaatkan lahan PT Garam untuk dijadikan retarding basin (waduk pengendali). Kedua adalah pendekatan non-struktural.

“Kami juga akan melakukan penanganan non-struktural, yakni dengan meningkatkan kesadaran warga, melakukan penguatan koordinasi lintas OPD, pengendalian tata ruang berbasis peta rawan banjir, dan penegakan peil banjir,” tandas Benny.

Riset yang masih berlangsung ini difokuskan pada kawasan rawan banjir, termasuk sejumlah permukiman padat dan jalan protokol di pusat kota, serta beberapa desa di Kecamatan Batuan, Saronggi, Lenteng, Bluto, dan Kallanget.

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep