Mediapribumi.id — Setiap 22 Oktober kita memperingati Hari Santri, mengenang para kiai dan santri yang menjaga republik ini ketika ia masih rapuh. Yang sering disebut biasanya nama-nama dari Jawa. Padahal di ujung timur Madura, tepatnya di Guluk-guluk, Sumenep, ada seorang ulama yang membayar kesetiaannya pada Indonesia dengan nyawa: KΗ Abdullah Sajjad. Pada Hari Santri 2026 ini, Lakpesdam NU Sumenep mengusulkan agar beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Ulama yang Turun ke Gelanggang
Kiai Sajjad lahir dari keluarga pesantren. Ayahnya, KH Moh. Syarqawi, mendirikan Pondok Pesantren Annuqayah. Bersama kakaknya, KH Moh. Ilyas, beliau menimba ilmu di Tebuireng, Jombang. Tahun 1930, beliau menggagas berdirinya madrasah di Annuqayah, cikal bakal pendidikan modern di pesantren itu. Orang-orang mengenalnya dekat dengan masyarakat. Kalau ada tetangga yang sakit, beliau datang bersama para santri untuk mendoakan.
Pada 1947, warga memercayainya menjadi Kepala Desa Guluk-guluk. Di tahun yang sama Belanda melancarkan agresi militer, mengabaikan kesepakatan Linggarjati. Saat pasukan Belanda bergerak ke Madura, Kiai Sajjad memimpin laskar Sabilillah wilayah Guluk-guluk. Pesantren yang biasanya dipakai mengaji berubah jadi markas latihan dan tempat menyusun strategi.
Senjata mereka seadanya. Meski begitu, pasukan ini sempat menahan laju Belanda di Cenlecen, Pakong, selama tujuh hari. Jembatan yang menghubungkan Cenlecen dengan Guluk-guluk dirobohkan supaya Belanda tak leluasa masuk ke Sumenep. Pertahanan itu akhirnya jebol karena kalah persenjataan, tetapi keberanian mereka tercatat dalam riset sejarah (Syakir, Avatara, 2013).
Menolak Mengungsi, Menolak Tunduk
Ketika terdesak, Kiai Sajjad bersembunyi di Karduluk. Para kiai menyarankan beliau mengungsi ke Jawa. Beliau menolak. Menurut kesaksian yang dimuat NU Online, beliau tidak rela menumbalkan rakyat demi keselamatan pribadi.
Belanda tahu cara memburu orang seperti ini: lewat tipu muslihat. Mereka menyebarkan kabar palsu bahwa Guluk-guluk sudah aman. Kiai Sajjad pun pulang. Warga menyambutnya, dan beliau sempat salat Asar dan Maghrib berjamaah. Tak lama kemudian, pasukan Belanda bersenjata lengkap datang menjemput.
Warga nyaris bentrok dengan mereka. Kiai Sajjad menahan warganya, lalu menyerahkan diri sendirian agar tak ada darah rakyat yang tertumpah. Di markas Belanda di Kemisan, beliau dirayu: tunduklah, maka jabatan kepala desa tetap aman. Beliau menolak. Ketika Belanda memutuskan mengeksekusinya, beliau hanya mengajukan dua syarat. Belanda harus meninggalkan Guluk-guluk, dan beliau diberi kesempatan salat. Dalam salat itu, tiga peluru menembus dadanya. Beliau gugur dalam posisi sujud.
Mengapa Layak Diusulkan
Kisah ini lebih dari sekadar cerita keberanian. Beliau memimpin laskar bersenjata di salah satu jalur masuk Belanda ke Sumenep. Jabatan dan keselamatan pernah ditawarkan kepadanya, tetapi beliau tidak bergeser sedikit pun dari sikapnya menolak penjajah. Beliau menyerah supaya warganya tidak jadi korban. Madrasah dan tradisi pesantren yang beliau rawat pun ikut membentuk Annuqayah, salah satu pesantren terbesar di Madura. Dan semua ini sejalan dengan semangat Hari Santri, yang berakar pada Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, seruan para ulama untuk membela kemerdekaan. Kiai Sajjad menghidupi seruan itu sampai napas terakhir.
Kami mengakui bahwa sebagian rincian sejarah masih berbeda antarsumber, misalnya tanggal gugurnya beliau. Justru karena itu pengusulan ini perlu disertai kerja akademik yang serius.
Seruan Kepada Pemangku Kebijakan
Kami mengajak Pemerintah Kabupaten Sumenep, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, keluarga besar Annuqayah, akademisi, sejarawan, dan seluruh elemen masyarakat untuk memulai langkah bersama. Pertama, menyusun naskah akademik riwayat perjuangan beliau. Kedua, menghimpun arsip, dokumen, dan kesaksian dari para saksi serta keluarga. Ketiga, memproses usulan lewat jalur yang ditetapkan negara.
Gelar Pahlawan Nasional bukan sekadar penghargaan bagi mereka yang telah tiada. Lewat gelar itu, bangsa ini mengingat harga kemerdekaan dan mewariskan teladan kepada generasi muda. Seorang yang memilih tetap berdiri teguh di hadapan senapan daripada tunduk di hadapan penjajah, demi rakyat dan kedaulatan negerinya, pantas dicatat dalam sejarah resmi bangsa.
Sumenep, 22 Oktober 2026
Oleh: Siswadi (Ketua Lakpesdam NU Sumenep)
Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!













