Mediapribumi.id, Sumenep — Bertepatan dengan Hari Santri Nasional (HSN) dan Bulan Budaya, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Ma’had Aly Al-Karimiyyah bersama Pondok Pesantren Al-Karimiyyah menggelar Gelar Budaya Santri Nusantara, Selasa malam (20/10/2026). Kegiatan ini mengajak santri ikut menjaga tradisi lokal yang mulai memudar.
Sekitar 800 peserta hadir dalam acara tersebut, terdiri dari delegasi masyayikh, santri, serta perwakilan organisasi kepemudaan se-Kabupaten Sumenep. Rangkaian acara dibuka dengan istighatsah dan doa bersama untuk keselamatan bangsa, lalu dilanjutkan seminar kebudayaan.
Ketua Panitia sekaligus Wakil Presiden DEMA Ma’had Aly Al-Karimiyyah, Moh. Hayat, mengatakan seminar ini digelar karena sejumlah tradisi daerah kian terkikis pengaruh budaya luar. Menurutnya, daerah yang kehilangan budayanya berisiko kehilangan sebagian jati dirinya.
“Kami ingin santri lebih peduli pada budaya, apalagi saat ini muncul anggapan bahwa agama tidak bisa disatukan dengan budaya,” ujar Hayat.
Ia menilai pesantren dan santri punya peran strategis menjaga warisan budaya tanpa meninggalkan nilai keislaman. Agama dan budaya, katanya, tidak perlu dipertentangkan, tetapi dipahami secara proporsional agar saling menguatkan di tengah masyarakat.
Seminar dipandu Aliya Zahra, penulis muda yang juga aktivis perempuan. Dua narasumber dihadirkan, yakni Adi Purnomo,pegiat sosial bidang pemberdayaan dan pendidikan, serta Mahendra Cipta, penulis, penyair, sekaligus sutradara teater.
Dalam paparannya, Adi Purnomo menyatakan Islam tidak menutup diri terhadap kebudayaan. Menurutnya, perjumpaan keduanya sudah berlangsung lama dalam kehidupan masyarakat.
“Islam terbuka terhadap perjumpaan agama dan budaya sejak dahulu. Keduanya tidak harus dipisahkan karena bisa saling menguatkan,” kata Adi.
Ia menambahkan, pelestarian tradisi dapat berjalan seiring dengan pengamalan ajaran Islam selama budaya yang dijalankan tidak bertentangan dengan prinsip agama. Dengan begitu, budaya bisa menjadi sarana menanamkan nilai kebaikan sekaligus memperkuat identitas masyarakat.
Pembahasan kemudian diarahkan pada peran santri di momentum Hari Santri. Santri dinilai tidak hanya bertanggung jawab menjaga nilai keagamaan, tetapi juga merawat tradisi dan identitas budaya bangsa.
Sementara itu, Mahendra Cipta memberi apresiasi atas konsistensi santri Sumenep dalam menjaga nilai budaya. Ia menyebut upaya melestarikan warisan budaya memerlukan komitmen dan kepedulian yang tidak mudah dijalani banyak orang. Keterlibatan santri di ruang kebudayaan, menurutnya, menunjukkan kepedulian terhadap warisan leluhur yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, melainkan juga punya potensi besar merawat budaya dan memperkuat kehidupan sosial,” tandasnya.
Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!













