Mediapribumi.id — Husamah, putra Pulau Pagerungan Kecil, Kabupaten Sumenep, menunjukkan bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi dan mengabdikan diri bagi masyarakat.
Kini, Husamah mengabdikan diri di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Perjalanan akademiknya mengantarkannya menyelesaikan pendidikan doktoral (S3) di Universitas Negeri Malang (UM).
Sebagai Dosen, peneliti dan akademisi, Husamah tidak hanya aktif dalam kegiatan penelitian. Ia juga senang berbagi pengetahuan melalui pelatihan kepenulisan dan workshop bagi tenaga pendidik. Baginya, ilmu akan semakin bernilai ketika tidak hanya disimpan untuk diri sendiri, tetapi dibagikan dan dimanfaatkan untuk membantu orang lain berkembang.
“Bagi saya, pendidikan bukan sekadar tentang meraih gelar. Pendidikan adalah proses untuk terus belajar, kemudian membagikan apa yang kita miliki kepada orang lain. Kalau ilmu yang kita punya bisa memberi manfaat, sekecil apa pun, di situlah makna dari sebuah pengabdian,” ujar Husamah. Rabu (12/8/2026).
Ia menyadari bahwa perjalanan dari sebuah pulau kecil menuju dunia akademik bukanlah sesuatu yang selalu mudah. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi bagian penting yang membentuk cara pandangnya terhadap pendidikan.
“ Saya berasal dari Pagerungan Kecil. Dari sana saya belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Justru dari tempat yang sederhana, kita bisa memiliki cita-cita yang besar. Yang paling penting adalah kemauan untuk terus belajar dan tidak mudah menyerah,” katanya.
Kegemarannya memberikan pelatihan kepenulisan kepada tenaga pendidik juga menjadi bagian dari upayanya mendorong budaya akademik. Ia berharap semakin banyak pendidik yang mampu menuangkan pengalaman, gagasan, dan hasil pemikirannya dalam bentuk tulisan.
“Menulis adalah salah satu cara untuk meninggalkan jejak pemikiran. Saya senang ketika bisa berbagi dengan para guru dan tenaga pendidik, karena pengalaman mereka sangat berharga. Jika pengalaman itu ditulis, maka manfaatnya bisa jauh lebih luas dan dapat menjadi inspirasi bagi orang lain,” tutur Husamah.
Perjalanan Husamah menjadi gambaran bahwa keberhasilan tidak selalu harus dimulai dari tempat yang besar. Dari sebuah pulau kecil, seseorang dapat tumbuh menjadi akademisi, peneliti, dan penggerak berbagi ilmu.
Baginya, gelar doktor bukanlah titik akhir, melainkan tanggung jawab baru untuk terus belajar dan memberikan manfaat.
“Gelar akademik bukan tujuan akhir. Setelah meraihnya, justru tanggung jawab kita semakin besar untuk terus belajar, melakukan penelitian, dan memberikan manfaat. Saya ingin apa yang saya pelajari tidak berhenti pada diri saya, tetapi bisa kembali kepada masyarakat, termasuk kepada generasi muda di daerah kepulauan,” paparnya.
Dari Pagerungan Kecil, Husamah membawa sebuah pesan sederhana.
“Asal-usul boleh dari pulau kecil, tetapi mimpi dan pengabdian tidak boleh berukuran kecil.” Pungkasnya.
Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!













