ArtikelOpini

Kita Tak Lagi Butuh Masjid, tapi Butuh Sinyal, Ibadah Baru Ummat Digital: Ambil, Post, Sebar

Avatar
143
×

Kita Tak Lagi Butuh Masjid, tapi Butuh Sinyal, Ibadah Baru Ummat Digital: Ambil, Post, Sebar

Sebarkan artikel ini
Kita Tak Lagi Butuh Masjid, tapi Butuh Sinyal, Ibadah Baru Ummat Digital: Ambil, Post, Sebar
Ilustrasi oleh: Open AI

Mediapribumi.idAlat baru super canggih dan murah yang lahir pada abad ini adalah telepon pintar yang hanya segenggam tapi mampu mengarungi lautan, yang hanya segenggam tapi mampu menjangkau seluruh permukaan, yang hanya segenggam tapi mampu menembus kehidupan sampai relung rasa yang paling dalam. Sampai membuat banyak hati yang sedang teriris mampu terobati secara benar-benar.

Keberadaan alat komunikasi baru ini telah banyak menyebabkan kehidupan orang-perorang berubah, karena transaksi dan pertukaran budaya dengan sangat prkatis dapat dilaksanaka sampai ujung dunia nan jauh sekalipun. Ini adalah gejala baru yang dirasakan oleh semua orang yang ada di keramaian kota sampai kesepian pelosok, cara berpikir dan hidup pun berubah dari yang sederhana menuju kehidupan yang amat istimewa.

Pertukaran informasi antar orang yang tanpa dapat dibatasi oleh ruang dan waktu telah mampu membuat sesi kehidupan berubah, cakrawalanya yang sebelumnya hanya selesai sampai depan kantor kecamatan kini pun semakin menjauh hingga depan Gedung Putih Amerika. Sehingga kehidupan yang sejatinya harus berupa ekspresi semu berubah menjadi ekspresi agresif sampai-sampai semua orang pun menginginkan untuk dapat berekspresi sekalipun sama sekali tidak tahu apa artinya.

Panggung baru tersebut bernama media sosial yang lahir dari suatu semangat kontestasi aspek-aspek kehidupan. Semua orang bebas mengekspreskan apa yang sedang dirasakan pada suatu waktu, dan dapat memosting rasanya tersebut agar dapat diketahui oleh semua orang yang memungkinkan untuk melihatnya. Hingga perasaan hatinya pun yang paling mendalam terlebih untuk urusan yang berhubungan dengan emosi yang sepantasnya dalam pemahaman sosial klasik harus disimpan rapat dalam dirinya -namun karena panggung kebebasan tersebut dapat diakses sampai relung paling privat sekalipun-dijadikan sebagai bahan tontonan orang banyak.

Tak jarang hal tersebut menjadi alat penyampai surat benci atau cinta dalam waktu singkat melebihi surat yang dikirimkan lewat pak pos. Banyak hal yang berhubungan dengan privasinya menjadi bahan pertontonan publik sampai membuat kejenakaan para penonton. Ini adalah ikhwal hari ini yang mampu menyatukan seluruh persepsi ummat manusia hingga dapat dengan mudah menggiring opini publik tertentu.

Berbagai kejadian telah terjadi, ada yang menyinyir hingga yang yang bermuatan gombalan kepada seorang yang amat terkasih. Karena keseringan dijadikan sebagai alat pengungkap kekesalan atau kebencian kemudian semua orang atau sebagian orang sepakat untuk juga menyikapinya dengan sensitivitas tinggi hingga sering merasakan kepanasan ketika membaca postingan seorang yang sedang dilanda musibah marah dan seakan terhubung dengan koneksi dirinya dan seakan berggapan bahwa hal itu untuknya.

Yang sering teejadi belakangan adalah merasa tersindirnya seorang dengan hasil post seorang di media sosial, entah dengan negatif atau dengan positif. Padahal ketika didalami bahwa postingan seseorang berupa cerita sehari merupakan ruang pribadi sama dengan kamar hanya saja bangunannya terbuat virtual. Dan jika kemudian disikapi dengan negatif tentunya waktu akan habis menyesali postingan orang diakun pribadinya. Sekalipun kadang memang itu ditujukan kepada seorang, namun ada kalanya hanya dijadikan sebagai muhasabah reflektif sederhana saja, bukan membiarkan diri dihabiskan oleh membaca post orang, dan terus bergerak kearah yang lebih dinamis.

Ikhwal pembicaraan media sosial yang dijadikan sebagai tempat untuk menyampaikan sesuatu secara terus menerus dibicarakan secara serius, dan diupayakan untuk dilakukan minimalisir dengan cara yang paling efektif. Ditambah lagi dengan minimnya kemampuan kritik secara mendalam termsuk terhadap dirinya menambah biakkan secara meluas gejala ini. Sebagai komunitas masyarakat yang plural dan masih berada pada angka rendah literasi dan produksi ilmu pengetahuan, keberadaan ini menambah kekhawatiran yang serius, sebab perkembangan tersebut berikut hura-haranya semakin membuat mabok akan kegirangannya terhadap media sosial dan keluarganya.

Pertukaran setiap gaya hidup yang dapat diakses secara mudah dan instan telah terbukti banyak memakan korban, dahulunya bekerja yang sepintas hanya alan dijadikan sebagai wahana untuk mencukupi kebutuhan diri sehari, kini berubah menajdi perlombaan untuk unjuk gigi ingin meniru kehidupan ala selebritis kaya raya, sampai lupa sedang ada anaknya yang masih kecil membutuhkan tuntunan pembentukan diri secara komprehensif.

Kata Fahruddin Faiz, orang-orang yang hidup di negara maju, belakangan mengalami depresi secara global ketika mengamati kelompok masyarakat yang mempunyai adat ketimuran -yang tidak melihat isi kantong untuk tertawa- mereka ingin belajar pada kehidupan ini yang masih sangat sederhana tapi mampu bahagia, ketika melihat hal baru mungkin mereka yang akan belajar berpikir ulang karena sebenarnya tidak ada bedanya dengan yang ada di daerahnya. Tapi untung kakek nenek masih hidup, jadi masih ada referensi untuk mendapatkan gambaran umum tentang hal tersebut sekalipun tidak sempuna.

Pada perkembangan selanjutnya, pecandu ini kata Youval Noah Harrari, kemudian mengimani secara tulen terhadap agama baru bernama dataisme dengan nabinya bernama internet, sebagai ummat agama anyar yang merasuki kehidupan manusia ini keyakinan terhdap Tuhan yang diajarkan secara istiqamah mulai dilepaskan peranannya, sebab dianggap tidak dapat memberikan dampak apapun secara materil. Aspek spiritual yang wajib dimiliki manusia pun beralih dari masjid atau tempat ibadat yang lain kegenggaman tangan yang dapat dioperasikan secara praktis semaunya.

Maka kemudian berdampak pada kekeringan spiritual sebab mediasi intlektual sudah digusur sehingga menyebabkan minimnya ruang refleksi setidaknya analisis diri. Dan amaliah yang menggantikannya belakangan adalah Ambil, Post dan Sebar. Secara terus menerus 3 hal tersebut menjadi fardhu ‘ain. Wahana wisata sudah tidak berguna untuk nikmatnya keindahan ciptaan dan pewisata tidak peduli dengan hal itu, hanya saja butuh hasil jepretan untuk dipost dan disebar, tanpa memperhatikan esensi seklaipun.

Al-Hasil, keberadaan gengsi-gengsian karena disebabkan oleh akses tidak terbatas terhadap suatu kehidupan lain merupakan hal yang perlu ditinjau ulang, mengingat aspek lokalitas tidak boleh tercerabut hanya karena urusan kecil yang kontra pengertian. Perkembangan alat memang berdampak pada setiap lini kehidupan secara massif, namun bukan berarti bisa dibenarkan sebagai penolak intlektualisme. Ketersindiran secara sentif merupakan hasil ketidak dalaman berpikir secara bijaksana, sehingga kecanduan pada agama baru menyebabkan terasing dari realitas sebenarnya. Dan perlu diusulkan ditambahkannya dalam do’a Sapu Jagat menjadi rabbana atina fiddunya hasanah wa fiddunnya maya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina ‘azdabannar. (Kom: 2020)

Oleh: Nur Muhammad (wartawan mediapribumi.id)

Catatan:  Tulisan ini Sepenuhnya Tanggung Jawab Penulis

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep