Kesuksesan membangun aset tidak selalu berarti keberhasilan dalam mempertahankan aset.
Mediapribumi.id – Purdi E. Chandra dikenal sebagai sosok entrepreneur yang berhasil membangun Primagama dari sebuah lembaga bimbingan belajar hingga berkembang menjadi jaringan bisnis pendidikan yang memiliki cabang di berbagai kota besar di Indonesia, bahkan mengantarkannya masuk dalam catatan MURI. Kesuksesan Purdi tidak berhenti pada Primagama. Semangat dan ambisinya untuk terus berkembang semakin besar. Pada tahun 2004, ia mendirikan Entrepreneur University, sekaligus mengembangkan berbagai usaha multi bidang bisnis dengan beragam kanal.
Kesuksesan tersebut tentu menjadi kebanggaan. Namun, perjalanan bisnis juga mengajarkan bahwa aset yang dibangun dengan susah payah dapat hilang ketika dikelola tanpa perhitungan yang matang. Ungkapan “ugal-ugalan” pada judul tulisan di atas bukan sekadar berbicara tentang keberanian mengambil risiko. Dalam dunia bisnis, keberanian tanpa perhitungan dapat berubah menjadi kesalahan yang mahal. Ekspansi yang terlalu agresif, penggunaan aset yang tidak terkendali, pengambilan keputusan yang tidak disiplin, dan kegagalan membaca kondisi bisnis dapat membuat perusahaan perlahan kehilangan kekuatannya.
Aset lembaga kursus yang dahulu menjadi simbol kesuksesan pun pada akhirnya bisa habis tak bersisa ketika pertumbuhan tidak diimbangi dengan tata kelola yang sehat.
Dari sini kita belajar bahwa membangun lebih mudah daripada mempertahankan. Mendapatkan uang membutuhkan kerja keras, tetapi menjaga agar uang dan aset tetap produktif membutuhkan disiplin, sistem, dan kebijaksanaan.
Seorang entrepreneur tidak cukup hanya pandai menghasilkan keuntungan. Ia juga harus mampu membedakan antara aset produktif dan aset konsumtif, keberanian dan kecerobohan, ekspansi dan pemborosan, serta investasi dan spekulasi.
Kegagalan bukan selalu akhir dari sebuah perjalanan. Justru kegagalan dapat menjadi sekolah yang sangat mahal. Dari sana seorang pengusaha belajar bahwa bisnis bukan hanya tentang seberapa besar seseorang mampu menghasilkan uang, tetapi juga tentang seberapa bijak ia menjaga, mengembangkan, dan mengalokasikan kekayaan tersebut.
Karena itu, ketika melihat kisah seorang pengusaha besar yang pernah berada di puncak kemudian mengalami kehancuran aset, jangan hanya bertanya, “Mengapa ia gagal?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Kesalahan apa yang bisa kita pelajari agar tidak mengulangi kegagalan yang sama?”
Sebab seorang entrepreneur sejati bukan hanya orang yang pernah sukses membangun kekayaan, tetapi orang yang mampu menjadikan pengalaman sukses dan kegagalannya sebagai ilmu untuk membangun kesuksesan yang lebih sehat, lebih terukur, dan lebih berkelanjutan.
Aset boleh besar, tetapi jika manajemen buruk, semuanya bisa hilang.
Modal boleh kuat, tetapi jika keputusan ugal-ugalan, semuanya bisa runtuh.
Maka dalam bisnis, bukan hanya keberanian yang diperlukan-tetapi juga disiplin, perhitungan, dan kebijaksanaan.
Kisah Purdi E. Chandra menjadi semakin menarik karena pada fase akhir kehidupannya ia masih menaruh perhatian pada gagasan tentang kemandirian finansial, dengan menulis buku berjudul : “Menjadi Kaya Tanpa Berutang”, sebuah buku yang secara filosofis menarik untuk direnungkan, bahwa kekayaan bukan hanya tentang seberapa besar seseorang memiliki aset, tetapi juga bagaimana seseorang mengelola kewajiban dan risiko keuangan.(*)
Catatan: Usman Adhim, S.H.I
Pemerhati & Penggiat Pendidikan
Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!













