Example floating
Example floating
Opini

Obligasi Moral Perguruan Tinggi Terhadap Pendidikan Lingkungan

1283
×

Obligasi Moral Perguruan Tinggi Terhadap Pendidikan Lingkungan

Sebarkan artikel ini
Obligasi Moral Perguruan Tinggi Terhadap Pendidikan Lingkungan
credit: umm.ac.id
Example 468x60

Obligasi Moral Perguruan Tinggi Terhadap Pendidikan Lingkungan

Dr. Nurwidodo
(Pemerhati Lingkungan, Dosen Pendidikan Biologi FKIP UMM)

Bencana lingkungan yang semakin mengancam terlihat dari berbagai laporan menyeramkan, diantaranya adalah mikroplastik yang sudah memasuki tubuh manusia, bahkan air susu ibu (ASI) yang menjadi asupan utama bayi baru lahir. Indonesia dikenal sebagai penghasil sampah plastik terbesar di dunia memang terbukti dari perilaku penggunaan plastik disetiap rumah tangga.

Selain plastik, bencana nuklir akan semakin menjadi realita oleh karena perang dunia ke-3 oleh pemilik senjata nuklir sudah dihadapan mata. Sekalipun lebih banyak orang orang tak berdosa, namun mereka akan menjadi korban pula, karena ekskalasi dampak dari ledakan nuklir sangat luas menjangkau di luar titik utama sasarannya.

Lalu bagaimana dengan perubahan iklim dan bocornya lapisan ozon penyelimut bumi? Tentu saja bencana ini bukan semakin berkurang, tetapi semakin mengkawatirkan.

Bencana tersebut sebagian besar disebabkan oleh perilaku manusia. Manusia memperlakukan lingkungan kelewat batas. Manusia mengeksplorasi lingkungan baik yang berada di atas permukaan tanah maupun yang berada di kedalaman tanah melebihi daya dukung lingkungannya. Tidak sekedar melakukan eksploitasi, tetapi juga membuang sisa-sisa alias sampahnya. Lingkungan diperlakukan bagaikan sumberdaya yang dieksploitasi sebanyak banyaknya, sekaligus lingkungan dijadikan sebagai bak sampah.

Terhadap lingkungan, perilaku manusia memang serakah dan hal ini telah terjadi dalam kurun waktu yang lama, berseiring dengan kemajuan peradaban manusia yang ditandai dengan perkembangan industri dan teknologi. Semakin maju perkembangan industri dan teknologi, semakin rakus pula eksploitasi kepada lingkungan, semakin buruk pula sampah yang dihasilkan. Katakanlah sampah elektronik, seperti televisi, komputer, laptop dan handphone dimana sering ditemukan setiap orang pasti memilikinya. Barang elektronik ini jika sudah tidak fungsi, atau mungkin sudah ketinggalan fashion, akan dibuang dan diganti dengan yang baru.

Sampah elektronik ini seperti abadi, karena tidak dapat diurai atau dihancurkan oleh lingkungan begitu saja. Untuk dapat terurai, sampah ni membutuhkan waktu yang absolut lama, mencapai riibuan tahun, jadi sangat berbahaya bagi lingkungan.

Semua karena perilaku manusia. Lalu harus bagaimana? Pendidikan adalah tulang punggung pengubah perilaku. Pendidikan lingkungan adalah ujung tombak dan pemeran utama untuk menjadikan manusia sadar akan bencana lingkungan yang semakin berbahaya dan mengancam keselamatan, kesehatan dan kenyamanan hidup kita.

Pendidikan lingkungan harus terus digelorakan, sejak di tingkat pendidikan dasar, menengah hingga pendidikan tinggi. Pendidikan lingkungan di tingkat pendidikan dasar penting untuk menanamkan dasar dasar pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam berperilaku ramah terhadap lingkungan.

Pendidikan lingkungan di tingkat menengah pertama penting untuk menguatkan ramah lingkungan yang terbentuk di tingkat dasar. Di tingkat menengah atas, pendidikan lingkungan penting untuk mengembangkan rasa cinta lingkungan sampai mewujud kedalam perilaku ramah lingkungan yang outonom dan meluas melintasi lingkup keluarga di rumahnya.

Bagaimana peran pendidikan lingkungan di perguruan tinggi? Pendidikan lingkungan di perguruan tinggi teramat penting. Tidak saja bagi fakultas berbasis ilmu kehidupan (biologi, kesehatan, pertanian, humaniora), akan tetapi semua fakultas dan semua bidang ilmu sangat perlu menyajikan atau menyelenggarakan pendidikan lingkungan. Fakultas teknik, fakultas agama, fakultas psikologi tidak ketinggalan pula fakultas ekonomi. Mengapa? Semua fakultas ataupun program studi di perguruan tinggi tersebut akan menghasilkan ilmuwan, praktisi, manajer dan pimpinan masyarakat. Semuanya itu akan menjadi aktor utama yang berperan dalam industri, bisnis, maupun perusahaan yang terkait erat dengan lingkungan.

Mereka akan menjadi penentu kebijakan di lingkungannya (decision maker). Kebijakannya akan berpengaruh terhadap lingkungaa. Manakala tidak dibekali dengan pendidikan lingkungan, bisa jadi keputusan bisnisnya bertabrakan dengan kepentingan keselamatan lingkungan. Para alumni dari pendidikan tinggi adalah calon pemimpin masa depan. Di tangan para pemimpin itulah, kebijakan dirumuskan termasuk kebijakan yang memihak atau pro terhadap lingkungan.

Betapa pentingnya pendidikan lingkungan di dunia pendidikan sehingga pemerintah memberikan penghargaan berupa sekolah adiwiyata untuk pendidikan dasar dan menengah.

Sementara itu di perguruan tinggi, kita mengenal Green Metric yang dipelopori oleh Universitas Indonesia (UI) dan telah diikuti oleh berbagai universitas dalam negeri maupun di luar negeri sehingga Green Metric ini telah mendunia.

Menjadikan pendidikan lingkungan sebagai kurikulum yang wajib ditempuh oleh mahasiswa adalah kebijakan mulia, mencegah bencana lingkungan yang semakin membahayakan umat manusia. Peran perguruan tinggi menjadi tumpuan utama untuk mewujudkan harapan terlahirnya para pemimpin dunia dalam bidang bisnis, industri dan kemasyarakatan yang ramah lingkungan. Di tangan para pemimpin, kita berharap perubahan nasib masa deepan, dari ancaaman bencana menjadi kelestarian. keharmonisan dan keramahan lingkungan.

Sekai lagi, inilah obligasi perguruan tinggi yang menjadi pekerjaan rumahnya. Wallohua’lam bisshowab.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *